Dokter Ungkap Pengaruh 4 Posisi Plasenta Terhadap Kondisi Kehamilan
Letak menempelnya plasenta pada dinding rahim setelah proses implantasi menentukan posisi plasenta seorang ibu hamil. Kondisi ini umumnya dideteksi oleh dokter melalui pemeriksaan USG transabdominal saat janji temu anatomi pada usia kehamilan 20 minggu atau trimester kedua.
Dilansir dari HaiBunda, posisi plasenta yang berbeda-beda pada setiap ibu hamil dapat memengaruhi sensasi gerakan bayi hingga metode pemantauan kehamilan. Meski begitu, terdapat beberapa posisi yang dikategorikan normal dan tidak mengganggu perkembangan janin.
Posisi pertama adalah anterior, yaitu kondisi ketika plasenta menempel di bagian depan rahim atau berada di antara bayi dan dinding perut ibu. Posisi ini bertindak sebagai penyangga sehingga ibu hamil biasanya merasakan gerakan janin lebih banyak di sisi samping, atas, dan bawah perut.
"Biasanya, ibu-ibu tersebut merasakan gerakan lebih di sisi, atas, dan bawah perut mereka dibandingkan tepat di tengah,” kata Bidan bersertifikat Diane Johnson, APRN-CNM.
Dampak dari posisi anterior ini membuat tendangan bayi terasa teredam, gerakan terasa lebih lembut, serta membutuhkan waktu lebih lama bagi ibu untuk menyadarinya. Gerakan tersebut tetap dinilai normal selama perkembangan janin di dalam kandungan berjalan dengan baik.
Posisi kedua adalah posterior, di mana plasenta berada di bagian belakang rahim yang dekat dengan tulang punggung ibu. Karena tidak ada penyangga di bagian depan, gerakan dan tendangan janin cenderung terasa lebih langsung dan lebih cepat disadari oleh ibu.
Posisi ketiga adalah fundal, yaitu kondisi saat plasenta menempel di bagian paling atas rahim. Letak ini termasuk variasi normal yang paling netral karena tidak banyak memengaruhi proses persalinan maupun intensitas gerakan bayi.
Posisi keempat adalah lateral, yang berarti plasenta berada di salah satu sisi rahim, baik sebelah kiri maupun kanan. Posisi ini tidak memicu komplikasi medis dan tetap dikategorikan sebagai kondisi kehamilan yang normal.
Kondisi Plasenta yang Memerlukan Perhatian Khusus
Selain empat posisi utama tersebut, terdapat kondisi medis lain yang memerlukan pemantauan ketat, salah satunya adalah plasenta letak rendah. Kondisi ini terjadi ketika tepi plasenta berada dalam jarak 2 sentimeter dari ostium serviks internal atau bukaan serviks.
"Saat rahim membesar, plasenta, karena melekat pada dinding rahim, akan semakin menjauh dari serviks," kata Johnson.
Menurut Johnson, tim medis akan mengevaluasi ulang kondisi ini antara minggu ke-28 dan ke-32 untuk melihat pergeseran plasenta seiring membesarnya rahim. Masalah ini sering kali dapat membaik dengan sendirinya tanpa penanganan agresif.
Kondisi berikutnya adalah plasenta previa, yang terjadi saat plasenta menutupi sebagian atau seluruh ostium serviks bagian dalam. Masalah ini memerlukan pemeriksaan USG transvaginal secara menyeluruh guna mengukur tingkat keterlibatan serviks.
Berbeda dengan posisi letak rendah, plasenta previa memicu risiko perdarahan yang jauh lebih tinggi selama masa kehamilan. Ibu hamil yang mengalami plasenta previa atau plasenta letak rendah biasanya diminta beristirahat total tanpa ada aktivitas di dalam vagina.
Pemeriksaan USG lanjutan bagi penderita plasenta previa akan dijadwalkan secara berkala setiap empat hingga delapan minggu sekali. Langkah ini disesuaikan dengan situasi kesehatan ibu hamil dan kebijakan dari penyedia layanan kesehatan.
Dampak Posisi Plasenta Terhadap Proses Persalinan
Empat posisi plasenta yang normal pada dasarnya tidak mengubah metode melahirkan seorang ibu. Namun, ibu dengan plasenta anterior memiliki kecenderungan melahirkan bayi posterior, yaitu kondisi bayi menghadap ke atas akibat posisi tali pusar dan plasenta.
Penanganan berbeda diterapkan pada kasus plasenta previa yang tidak kunjung bergeser hingga mendekati waktu melahirkan.
"Anda tidak dapat melahirkan bayi Anda melalui plasenta, jelas, itu tidak aman," kata Johnson.
Apabila kondisi plasenta previa masih bertahan pada usia kehamilan 36 minggu atau lebih, maka tim medis wajib melakukan operasi caesar. Prosedur operasi caesar juga kemungkinan besar dilakukan jika plasenta letak rendah belum bergeser cukup jauh dari serviks pada trimester ketiga.