Harga Bitcoin Anjlok ke Bawah US$62.000 Akibat Konflik Timur Tengah

Share

Nilai mata uang kripto Bitcoin mengalami penurunan tajam hingga di bawah US$62.000 pada awal perdagangan di Singapura hari Kamis, 4 Juni 2026, akibat sentimen negatif dari bentrokan baru di Timur Tengah dan aksi jual aset digital.

Kemerosotan lebih dari 5 persen ini menyentuh level terendah sejak 6 Februari 2026, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Konflik yang melibatkan Iran tersebut menekan pergerakan pasar secara luas sembari memperpanjang tren buruk mingguan Bitcoin dengan akumulasi kehilangan nilai sekitar 16 persen.

Kondisi ini dipicu setelah Strategy Inc. milik Michael Saylor melepas kepemilikan Bitcoin raksasanya senilai sekitar US$2,5 juta. Langkah salah satu pembeli institusional terbesar tersebut direspons negatif oleh pasar karena melanggar komitmen awal perusahaan untuk terus menumpuk aset digital.

"Harga Bitcoin turun minggu ini karena Strategy melanggar janji ‘tidak pernah menjual’ yang menghancurkan kepercayaan pasar," kata Josh Du, CIO Animoca Brands.

Penurunan performa Bitcoin ini berbanding terbalik dengan bursa saham teknologi yang justru mencetak rekor tertinggi. Token kripto utama ini tercatat telah kehilangan lebih dari separuh nilainya sejak mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$126.000 pada Oktober tahun lalu.

Risiko makroekonomi global terus membayangi pelaku pasar yang kini tengah menantikan kelanjutan perkembangan kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran di tengah serangan yang masih terus bergulir. Tekanan ini berimbas pada pelemahan indeks saham di bursa Asia dan Amerika Serikat pada Kamis pagi.

Aset digital terbesar kedua, Ether, turut terpukul dengan penurunan harga ke level US$1.807 atau posisi terendah sejak April 2025. Koreksi nilai Ether tercatat mencapai 11 persen lebih dalam kurun waktu satu minggu terakhir.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author