IHSG Melemah ke Level 5849 pada Pembukaan Perdagangan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah hingga kehilangan 91,92 poin atau 1,55 persen ke level 5.849 pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi pukul 09:20 WIB. Dilansir dari Bloomberg Technoz, penurunan ini menempatkan IHSG sebagai indeks dengan pelemahan terdalam ketiga di Asia.
Hampir seluruh indeks saham utama di Asia bergerak di zona merah, termasuk KOSPI Korea Selatan yang merosot 2,52 persen dan NIKKEI 225 Tokyo yang melorot 1,86 persen. Pergerakan negatif juga melanda Topix Jepang, TW Weighted Index Taiwan, Hang Seng Hong Kong, Straits Times Singapura, serta sejumlah indeks di China.
Data Bursa Efek Indonesia setelah 20 menit perdagangan menunjukkan volume transaksi mencapai 5,74 miliar saham dengan nilai Rp3,33 triliun dari 402.473 kali frekuensi. Tercatat hanya 84 saham yang menguat, sedangkan 531 saham melemah dan 106 saham lainnya stagnan.
Penurunan indeks dalam negeri ini dipicu oleh perpaduan sentimen eksternal serta kondisi domestik. Tekanan utama datang dari outlook negatif Moody’s terhadap Danantara, pelemahan rupiah yang melebihi 7 persen sejak awal tahun, dan sikap hati-hati investor menjelang pengumuman klasifikasi pasar MSCI.
"Secara teknikal, IHSG masih berpotensi melanjutkan fase konsolidasi dengan area support di 5.850 dan resistance di 6.060," tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.
Pihak sekuritas merekomendasikan saham DSSA dan DMAS untuk perdagangan hari ini. Di sisi lain, peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran turut menjadi fokus perhatian pasar karena memicu ketidakpastian negosiasi damai.
"Harga minyak yang kembali naik juga memicu kecemasan akan inflasi yang meningkatkan peluang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan BI Rate, apalagi jika rupiah berlanjut melemah," papar Phintraco Sekuritas.
Apabila indeks ditutup di bawah level 5.900 hari ini, IHSG berisiko menguji area support selanjutnya pada rentang 5.750–5.840. Phintraco Sekuritas memilih saham JSMR, MSIN, ACES, PSAB, dan MAPA sebagai pilihan perdagangan.
Sementara itu, kemerosotan bursa Wall Street yang berbarengan dengan kenaikan imbal hasil obligasi serta harga minyak mentah diprediksi memperberat laju indeks. Kondisi ini diperparah oleh aksi jual oleh investor asing dan pelemahan nilai tukar rupiah.
"IHSG diprediksi akan melanjutkan pelemahannya dengan kisaran support 5.840–5.740 dan resistance 6.040–6.145," demikian riset CGS International Sekuritas Indonesia.
Saham pilihan dari CGS International Sekuritas meliputi MAPI, BREN, TLKM, ISAT, TINS, dan MYOR. Panin Sekuritas menambahkan bahwa potensi pelemahan didorong pula oleh tingginya ketidakpastian ekonomi dalam negeri dengan rekomendasi saham ITMG, MTEL, dan DEWA.