Rupiah Ambles Tembus Rp18.020 per Dolar AS

Share

Nilai tukar rupiah ambles hingga melewati batas psikologis baru dan mencetak rekor terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi. Pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal serta ketidakpastian kebijakan domestik.

Pergerakan mata uang nasional langsung tertekan sejak pembukaan pasar. Dilansir dari Bloomberg Technoz, rupiah dibuka melemah 0,06% ke level Rp17.960 per dolar Amerika Serikat (AS), lalu merosot ke Rp17.995 per dolar AS pada pukul 09.04 WIB.

Penurunan terus berlanjut hingga mata uang Indonesia menembus level Rp18.000 per dolar AS pada pukul 09.16 WIB. Fluktuasi negatif ini belum berhenti karena pada pukul 09.25 WIB rupiah kembali tersungkur 0,25% ke posisi Rp18.020 per dolar AS.

Situasi ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun bergulir. Kendati indeks dolar AS sempat terkoreksi tipis ke 99,44 dan harga minyak mentah turun 1,07% ke US$96,76 per barel, kecemasan pasar terhadap pembengkakan defisit tetap tinggi.

Lonjakan harga minyak mentah dunia memperbesar risiko pelebaran defisit neraca transaksi berjalan dan defisit fiskal. Pemerintah sejauh ini juga belum memangkas beban subsidi energi demi menjaga daya beli masyarakat.

Kondisi makroekonomi dalam negeri kian berat setelah lonjakan inflasi Mei mencapai 3,08%. Kenaikan harga kini menyebar ke hampir seluruh kelompok pengeluaran, tidak lagi terbatas pada komoditas pangan saja.

Data menunjukkan kelompok makanan dan minuman mengalami kenaikan 4,94%, transportasi 2,3%, serta restoran 2,24%. Selain itu, sektor kesehatan naik 1,70%, pendidikan 1,15%, dan perawatan pribadi melonjak hingga 10,35%.

Faktor domestik diperparah oleh iklim politik yang penuh ketidakpastian kebijakan, termasuk kasus hukum yang menimpa kepala program prioritas Makan Bergizi Gratis. Di sisi lain, muncul sentimen beragam dari lembaga pemeringkat internasional.

Moody's Ratings untuk pertama kalinya menyematkan peringkat kredit Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM) di bawah BPI Danantara. Namun, pasar justru dicemaskan oleh rumor penurunan rating Indonesia oleh S&P Global menjadi BBB- dari sebelumnya BBB.

Prospek pergerakan mata uang dinilai masih menghadapi tantangan berat dalam jangka pendek akibat akumulasi sentimen tersebut. Target pergerakan nilai tukar diperkirakan masih akan berada dalam rentang yang melemah.

"depresiasi rupiah berpotensi berlanjut hari ini dengan target rentang Rp17.950-18.050/US$." kata Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist, Mega Capital Sekuritas.

Angka batas psikologis Rp18.000 per dolar AS yang kini terlampaui menjadi indikator penting bagi pelaku pasar dalam menilai stabilitas ekonomi nasional ke depan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author