Wabah Ebola Meluas di Kongo Setelah Serangan Tim Pemakaman
Sebanyak 11 pasien Ebola melarikan diri dari fasilitas isolasi dan sebuah tim pemakaman mendapat serangan di bagian timur Republik Demokratik Kongo pada Kamis, 4 Juni 2026, ketika wabah menyebar ke zona kesehatan baru, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Tim yang bertugas memakamkan korban secara aman terpaksa meninggalkan peti jenazah di Kota Katanawas, Kivu Selatan, akibat serangan warga setempat. Insiden tersebut memicu kekhawatiran para pejabat kesehatan terkait munculnya rantai penularan baru di tengah situasi keamanan yang tidak stabil akibat kelompok bersenjata.
Laporan situasi pada Rabu menyebutkan bahwa Rimba kini menjadi zona kesehatan ke-17 yang terdampak di Ituri, sekaligus yang ke-25 di tingkat nasional.
"Perluasan geografis ke arah Rimba menunjukkan adanya penularan aktif di tingkat komunitas," kata laporan tersebut.
Krisis kesehatan ini kian meluas ke ranah internasional di tengah pelacakan kontak yang masih lemah di dalam negeri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini sedang menyelidiki penyebaran lintas batas yang melibatkan seorang pelancong terinfeksi yang sempat mengunjungi Uni Emirat Arab (UEA) dan Uganda.
"Wabah ini sudah memiliki keunggulan waktu yang besar dan kami masih tertinggal, tetapi di bawah kepemimpinan Pemerintah Republik Demokratik Kongo, kami mulai mengejar ketertinggalan itu," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Pimpinan badan kesehatan dunia tersebut memberikan penegasan mengenai faktor utama yang menentukan keberhasilan penanganan wabah setelah dirinya melakukan kunjungan langsung ke pusat epidemi.
"Kunci untuk mengakhiri wabah ini bukanlah faktor biomedis. Kuncinya adalah kepemimpinan, kepemilikan, kemitraan, dan kepercayaan," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Kongo mencatat total 363 kasus Ebola terkonfirmasi dan 62 kematian akibat varian Bundibugyo, termasuk 19 kasus baru pada 2 Juni. Saat ini terdapat lebih dari 4.200 kontak yang dipantau di tiga provinsi, namun tim pengawas baru berhasil menjangkau 46 persen dari target pelacakan sebesar 95 persen.