PT Timah Kejar Target Produksi Logam Kuartal II Melalui Strategi Agresif

Share

PT Timah (Persero) Tbk atau TINS membidik target produksi logam timah pada kuartal II-2026 di atas target yang ditetapkan untuk memanfaatkan momentum lonjakan harga di pasar global pada Rabu (3/6/2026).

Langkah taktis tersebut diambil manajemen emiten pertambangan pelat merah ini setelah komoditas timah menembus harga di atas US$55.000 per ton di London Metal Exchange (LME), seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.

Perusahaan menetapkan target penjualan dan produksi kuartal II-2026 ini serupa dengan capaian kuartal sebelumnya, di mana penjualan kuartal I mencapai 6.009 metrik ton dan produksi sebesar 5.630 metrik ton Sn.

“Yang udah rilis Q1 sampai Maret, kita di atas target. Kemudian Q2 hampir sama, jadi ritmenya lagi bagus, harga juga lagi tinggi sekali. Jadi momentumnya harus dimanfaatkan.,” kata Direktur Produksi & Komersial TINS Ilhamsyah Mahendra di sela Indonesia Critical Mineral Conference, Rabu (3/6/2026).

Pihak manajemen operasional perseroan mengonfirmasi target keseluruhan sepanjang tahun 2026 ini mencakup produksi logam timah sebesar 30.000 ton serta target volume penjualan sekitar 26.000 ton.

Manajemen juga mengidentifikasi kemunculan aktivitas penambangan tanpa izin di dalam wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) milik perusahaan sebagai hambatan utama yang kerap terjadi pada paruh kedua tahun berjalan.

“Jadi kita dorong mengenai aturan WPR dan IPR. Jadi kita bisa kolaborasi atau melegalisasi penambangan rakyat. Jadi kita bisa potong atau minimal minimalisasi illegal mining,” tutur Ilhamsyah Mahendra.

Guna mengimbangi kendala lapangan tersebut, emiten berkode saham TINS ini merencanakan modernisasi peralatan kerja sekaligus pembaruan teknologi pengolahan demi meningkatkan kapasitas produksi.

“Karena demand lebih tinggi daripada suplainya, jadi shortage barangnya. Jadi, itu yang bergantung harga tinggi sampai hampir US$55.000-US$56.000 sekarang,” ucap Ilhamsyah Mahendra.

Manajemen kemudian mengalokasikan anggaran belanja modal tambahan senilai puluhan miliar rupiah yang khusus digunakan untuk mendanai kegiatan eksplorasi dalam rangka mempertebal cadangan bijih timah.

“Kita rencana capex lumayan besar dari segi nominal. Kita aiming nambah sekitar Rp200-300 miliar lagi. Jadi kita agresif untuk itu. Karena sekarang kan resource-nya makin susah. Tapi kita dengan teknologi yang baru, kita coba terus agresif,” ucap Ilhamsyah Mahendra.

Berdasarkan laporan kinerja kuartal I-2026, perseroan mencatat kenaikan produksi bijih timah sebesar 96 persen menjadi 6.312 ton Sn, sementara harga jual rata-rata melonjak 51 persen menjadi US$49.221 per metrik ton.

Pasar ekspor menyerap mayoritas penjualan logam TINS sebesar 97 persen dengan China sebagai tujuan utama sebesar 48 persen, disusul India 11 persen, Korea Selatan 10 persen, Italia 6 persen, Singapura 5 persen, dan Belanda 4 persen.

Data perdagangan LME pada Rabu (3/6/2026) memperlihatkan harga komoditas logam timah ditutup menguat sebesar 2,31 persen dibandingkan hari sebelumnya dan dilego pada posisi US$57.960 per ton.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author