Mendiktisaintek Bahas Dugaan Kasus Pemalsuan Riset Internasional Oleh Empat WNI
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menggelar rapat pleno pada Kamis (4/6/2026) untuk membahas keputusan terkait dugaan kasus pemalsuan riset oleh empat warga negara Indonesia (WNI) pada forum internasional, dilansir dari Detikcom.
"Kami besok (Kamis 4 Juni) baru mau rapatkan pleno," kata Brian, Mendiktisaintek.
Pemerintah akan menyampaikan hasil keputusan mengenai dugaan manipulasi data tersebut setelah pertemuan seluruh jajaran selesai dilaksanakan.
"Besok (Kamis 4 Juni) saja ya setelah rapat saya kabari," ujar Brian, Mendiktisaintek.
Sebelumnya, dalam Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI di Senayan, Jakarta, pada Selasa (2/6/2026), Brian mengungkapkan bahwa empat orang terduga pelaku merupakan lulusan sarjana dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan latar belakang pendidikan magister yang berbeda-beda.
"Tertain dengan tadi permasalahan kasus beberapa orang yang melakukan pembohongan riset, ini kami sudah membentuk tim dan sudah berkoordinasi dengan UNY. Bahwa benar empat orang itu, tadi seperti yang ditanyakan, bahwa benar empat orang itu lulusan S1-nya adalah UNY. S2-nya berbeda-beda," kata Brian, Mendiktisaintek.
Kementerian Tegaskan bahwa keempat oknum tersebut tidak tercatat sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi mana pun, sehingga membatasi kewenangan penindakan secara birokrasi.
"Tetapi memang setelah kami cek di seluruh database perguruan tinggi, keempatnya itu tidak berafiliasi atau bukan dosen di perguruan tinggi tersebut. Sehingga tentu secara administrasi, kita tidak memiliki payung hukum untuk penanganan dan memproses lebih lanjut," ujar Brian, Mendiktisaintek.
Kasus ini mencuat setelah kelompok periset Indonesia yang terdiri atas Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti mempresentasikan penelitian di Konferensi Ilmiah Internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.
Seorang peneliti bernama Ida Bagus Mandhara Brasika kemudian membongkar bahwa presentasi impresif tersebut diduga kuat menggunakan identitas palsu serta data hasil fabrikasi kecerdasan buatan (AI).
"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia. Hal ini terungkap di konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli pneumonia di seluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark," tulis Mandhara Brasika, Peneliti.
Skandal akademik ini menjadi perhatian besar karena para pelaku diduga memanipulasi penampilan serta memanfaatkan teknologi untuk menyusun seluruh materi studi fiktif mereka.
"Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag. Yang lebih gila… Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di generate AI, gambar dan tulisannya juga," lanjut Mandhara Brasika, Peneliti.