Chris Evert Soroti Kegagalan Aryna Sabalenka di Prancis Terbuka 2026

Share

Legenda tenis Chris Evert menganalisis runtuhnya permainan Aryna Sabalenka setelah petenis nomor satu dunia itu tersingkir secara mengejutkan dari turnamen Prancis Terbuka 2026 pada Rabu sore, 3 Juni 2026.

Sabalenka dipastikan angkat koper dari Lapangan Philippe Chatrier setelah kalah dramatis dari petenis Rusia, Diana Shnaider, dengan skor 6-3, 5-7, dan 0-6 meski sempat unggul 4-1 pada set kedua.

Kondisi angin kencang di Paris dinilai kembali menyulitkan petenis berusia 28 tahun tersebut, mengulang memori kelam saat ia takluk dari Coco Gauff di laga final turnamen yang sama tahun lalu.

Mantan pemilik 18 gelar grand slam, Chris Evert, mengaku sangat terkejut dengan perubahan situasi yang sangat mendadak di atas lapangan dalam komentarnya di TNT Sports.

"I have never seen her be up a set and 4-1, playing pretty well and all of a sudden her game goes to demise." kata Chris Evert, Mantan Pemain Tenis.

Evert menambahkan bahwa Roland Garros merupakan turnamen impian yang sangat diidamkan oleh Sabalenka sepanjang tahun ini.

"This was her dream tournament; she has dreamt about this all year. All of a sudden she lost her feel. It is quite unbelievable." tutur Chris Evert, Mantan Pemain Tenis.

Mantan petenis nomor satu Inggris, Tim Henman, juga mengaku tertegun melihat performa Sabalenka yang kehilangan sepuluh gim secara beruntun di akhir pertandingan.

"To lose 10 games in a row, she’s had a bit of a meltdown there" ujar Tim Henman, Mantan Petenis Inggris.

Evert menganggap laga tersebut sebagai salah satu pertandingan paling aneh yang pernah ia saksikan, sembari memuji Shnaider yang berhasil menembus semifinal Grand Slam pertamanya.

Menurut Evert, Sabalenka harus segera belajar menyesuaikan gaya permainannya ketika faktor cuaca dan alam mulai tidak mendukung di lapangan.

"I don’t think she has learnt how to play in the wind. The wind requires footwork, adjustment steps around the ball, wind wreaks havoc on the ball. You have to wait to the last second to set your feet and hit the ball." kata Chris Evert, Mantan Pemain Tenis.

Komentator asal Amerika Serikat itu juga menyadari momen ketika Sabalenka mulai melayangkan protes dan berargumen dengan tim pelatihnya di tengah set kedua.

Evert kemudian melontarkan teori bahwa beban mental akibat gugurnya para petenis unggulan lain kemungkinan turut memengaruhi fokus Sabalenka.

"What about this? Five of the top seeds had lost. Maybe that was in the back of her mind, ‘I have to win this now’. There could be a million reasons why it wasn’t her week," ucap Chris Evert, Mantan Pemain Tenis.

Mantan pelatih Coco Gauff, Brad Gilbert, ikut mengekspresikan keterkejutannya melalui sebuah cuitan di Twitter yang menyatakan bahwa Sabalenka telah kehilangan kendali permainan.

Jurnalis dan presenter tenis, Marcus Buckland, juga tidak percaya dengan runtuhnya mentalitas sang petenis nomor satu dunia di Paris yang berangin hingga terkena skor telak pada set ketiga.

"Can’t believe the meltdown we have just witnessed from the World number 1 here in a windy Paris. A set up and cruising, Aryna Sabalenka loses the plot completely – bageled in set 3. The shocks keep on coming!" kata Marcus Buckland, Jurnalis Tenis.

Kemenangan ini membawa Shnaider selaku unggulan ke-25 untuk menghadapi petenis kualifikasi Maja Chwalinska di babak semifinal, sementara partai semifinal lainnya mempertemukan Marta Kostyuk dan Mirra Andreeva.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author