Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Respons Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang untuk meningkatkan koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) setelah nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh posisi Rp17.957 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026).
Pelemahan mata uang Indonesia sebesar 0,62 persen ini menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah kemerdekaan RI, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Rabu (3/6/2026).
Pemerintah menegaskan bahwa upaya perbaikan nilai tukar akan terus diupayakan melalui penguatan kerja sama antarlembaga terkait.
“Kalau ada [yang] kita bisa melihat ada koordinasi yang bisa ditingkatkan sehingga memperbaiki nilai tukar, kita akan lakukan,” kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Purbaya menjelaskan bahwa kewenangan utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar berada di tangan bank sentral, sementara KSSK saat ini masih menjalankan rapat berkala secara normal.
“Sekarang itu masih dalam yurisdiksi bank sentral kita. Kecuali bank sentral minta rapat cepat, ya kita akan rapat cepat. Kalau masalah nilai tukar, bank sentral adalah ahlinya. Kita serahkan ke bank sentral,” tutur Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
KSSK yang beranggotakan Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) rutin menggelar diskusi di tingkat deputi setiap bulan untuk memberikan masukan.
Di sisi lain, Purbaya menepis rumor pasar yang mengeklaim dirinya meminta perbankan melakukan uji stres apabila rupiah menembus angka Rp18.000 per dolar AS.
“Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah negatif. Tapi kalau kita lihat, kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi saja. Supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat,” ungkap Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Pemerintah memilih fokus pada penguatan struktur fundamental ekonomi domestik demi menopang nilai tukar dalam jangka panjang.
“Karena pada akhirnya kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya. Jadi untuk saya fokusnya di situ,” pungkas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Berdasarkan data pasar, depresiasi rupiah dipicu oleh sentimen eksternal seperti kenaikan harga minyak Brent yang mendekati US$100 per barel dan tingginya indeks dolar AS di level 99.
Kondisi ini menempatkan rupiah sebagai mata uang terlemah kedua di Asia setelah ringgit Malaysia, diikuti oleh rupee India, yuan offshore, dan dolar Singapura yang juga ikut terdepresiasi.
Tekanan eksternal akibat lonjakan harga minyak mentah dunia dan ketidakpastian geopolitik tersebut kian diperberat oleh persoalan inkonsistensi kebijakan di dalam negeri.