Pelanggan Video Online Global Tembus 2,24 Miliar, Salip Pendapatan TV Berbayar
Pasar hiburan dunia mencatat pergeseran besar seiring lonjakan drastis konsumsi media digital. Laporan terbaru dari lembaga riset Omdia menunjukkan jumlah pelanggan video online di seluruh dunia menyentuh angka 2,24 miliar pada akhir 2025.
Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, pencapaian tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 17,6% jika dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang berada di angka 1,9 miliar pelanggan. Lonjakan ini menjadi pertumbuhan tahunan paling signifikan yang tercatat sejak 2021.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan sektor televisi berbayar konvensional. Data Omdia memperlihatkan bahwa total pelanggan pay-TV secara global justru menyusut 1,8% secara tahunan, sehingga kini hanya menyisakan 1,03 miliar pelanggan pada 2025.
Melalui perubahan dinamika ini, platform video online sekarang mendominasi sekitar 68,4% dari total gabungan 3,3 miliar langganan TV dan video di seluruh dunia. Sektor streaming kini tidak hanya unggul dari aspek kuantitas pengguna, tetapi juga berhasil melewati pendapatan TV berbayar untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Riset Omdia menjabarkan bahwa pendapatan dari sektor video online meningkat sebesar 13,5% hingga mencapai US$176 miliar pada 2025. Pada periode yang sama, pemasukan dari TV berbayar mengalami penurunan sebesar 4% menjadi US$170 miliar. Akumulasi angka tersebut mencakup pendapatan dari sektor berlangganan serta transaksi, tanpa memasukkan unsur iklan.
Practice Leader Media, Entertainment & Advertising Omdia, Adam Thomas mengutarakan bahwa kenaikan masif jumlah pelanggan sepanjang 2025 disokong oleh kemunculan opsi paket berlangganan berbiaya rendah yang disertai tayangan iklan.
"Kenaikan pelanggan sebesar 17,6% pada 2025 merupakan pertumbuhan tahunan terbesar sejak 2021. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh paket langganan berbasis iklan yang disubsidi oleh operator telekomunikasi dan penyedia TV berbayar," kata Thomas.
Menurut Thomas, tingginya minat publik terhadap paket ekonomis tersebut menjadi alasan utama mengapa akselerasi jumlah pelanggan berjalan lebih cepat ketimbang pertumbuhan pendapatan industri. Fenomena tersebut terlihat dari selisih antara kenaikan pelanggan sebesar 17,6% dan pertumbuhan pendapatan yang hanya menyentuh 13,5%.
Omdia menilai skema paket dengan sokongan iklan menjadi instrumen krusial bagi korporasi streaming demi merangkul segmen pasar yang sangat sensitif terhadap harga. Meski demikian, kecenderungan ini diprediksi hanya berlangsung dalam jangka pendek.
Dalam kurun beberapa waktu terakhir, para pengelola platform streaming mulai mengalihkan orientasi bisnis mereka. Fokus industri kini bergeser dari sekadar memburu kuantitas pengguna baru menjadi optimalisasi pendapatan dari basis pelanggan aktif, salah satunya lewat penyesuaian harga paket premium tanpa iklan.
Senior Principal Analyst TV & Online Video Omdia, Tony Gunnarsson mengemukakan bahwa lonjakan pelanggan yang terjadi pada 2025 tidak serta-merta mengubah proyeksi jangka panjang dari industri ini secara keseluruhan.
"Jelas bahwa ketersediaan paket beriklan dengan harga menarik memberikan dorongan sementara terhadap jumlah pelanggan layanan SVOD pada 2025. Namun hal itu tidak mengubah proyeksi jangka panjang kami yang tetap memperkirakan pertumbuhan tahunan hanya berada pada level satu digit rendah dalam beberapa tahun mendatang," sebut Gunnarsson.
Mengingat industri streaming di sejumlah negara utama sudah mulai mendekati titik jenuh, Omdia memproyeksikan laju pertumbuhan pelanggan global akan mengalami perlambatan ke level 5,6% sepanjang 2026.
Walakin, posisi tawar layanan video online terhadap televisi berbayar diperkirakan tetap menguat. Tren positif ini terus disokong oleh pergeseran perilaku konsumen, variasi konten digital yang semakin kaya, serta inovasi strategi monetisasi teranyar.