Hasanuddin Wahid Menyoroti Ketimpangan Ekonomi dalam Momentum Hari Kebangkitan Nasional
Anggota Komisi XI DPR RI Hasanuddin Wahid menyoroti ketimpangan sosial-ekonomi yang masih tinggi di Indonesia menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2026.
Melalui catatan opini pribadi yang dilansir dari news.detik.com pada Selasa (19/5), ia merefleksikan bahwa kebangkitan nasional pada awal abad ke-20 sebenarnya dipicu oleh akumulasi penderitaan ekonomi kolonial yang panjang, bukan sekadar gerakan budaya.
Hasanuddin menjelaskan sejarah mencatat Kerajaan Belanda meraup surplus sekitar 823 juta gulden dari sistem tanam paksa (cultuurstelsel) periode 1830-1877 untuk membangun infrastruktur mereka, sementara rakyat Nusantara menghadapi bencana kelaparan dan kemiskinan struktural.
Kondisi eksploitasi tersebut melahirkan kaum pribumi terdidik dari sekolah-sekolah modern Politik Etis seperti STOVIA yang kemudian membangun kesadaran politik untuk melawan ketidakadilan ekonomi.
Menurut Hasanuddin, refleksi sejarah tersebut sangat relevan dengan situasi saat ini karena Indonesia yang memiliki cadangan nikel global mencapai 40 hingga 42 persen atau sekitar 55 juta hingga 62 juta ton metrik berdasarkan data US Geological Survey, masih menghadapi tantangan distribusi kekayaan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 menunjukkan angka rasio gini Indonesia berada di kisaran 0,381, dan laporan terbaru Center of Economic and Law Studies (CELIOS) per April 2026 menyebutkan kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan 55 juta penduduk terbawah.
Hasanuddin juga memaparkan fenomena kontras di mana pusat perbelanjaan mewah tumbuh pesat di kota besar, sementara petani di desa masih kesulitan menghadapi pupuk mahal serta ketidakstabilan harga panen.
Ia mengingatkan bahwa penjajahan modern tidak lagi hadir dalam bentuk pendudukan militer, melainkan melalui ketergantungan utang, dominasi teknologi asing, eksploitasi data digital, hingga ketergantungan impor teknologi tinggi.
Catatan dari Bank Dunia turut menunjukkan kontribusi sektor manufaktur Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) cenderung stagnan dalam dua dekade terakhir, sementara ekspor bahan mentah masih mendominasi.