Investor Asing Lepas Saham Perbankan Besar di Bursa Efek Indonesia

Share

Investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell yang signifikan sebesar Rp 525,3 miliar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan sesi I, Rabu (3/6/2026), dengan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi target utama pelepasan aset.

Dilansir dari Investor Daily melalui data BEI yang dirilis Stockbit Sekuritas, nilai net sell pada saham BBCA menembus Rp 265,3 milar dari total volume yang dilepas mencapai 46,6 juta saham. Tekanan jual tersebut mengakibatkan harga saham BBCA melemah 3 persen ke level Rp 5.650 per lembar saham.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif bank swasta terbesar tersebut dengan akumulasi penurunan sebesar 5,4 persen dalam sepekan terakhir, 3,4 persen dalam sebulan, serta ambles hingga 30 persen secara year to date (ytd).

Meskipun berada di tengah tekanan jual yang masif, MNC Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan melakukan penyesuaian penurunan target harga baru.

Lembaga sekuritas tersebut menetapkan target harga baru BBCA pada level Rp 8.700 dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp 10.500 per lembar saham. Penyesuaian ini merefleksikan estimasi valuasi Price to Book Value (PBV) sebesar 3,4 kali untuk tahun 2026 dan 3 kali untuk tahun 2027.

Langkah revisi ini juga berjalan beriringan dengan perubahan tingkat imbal hasil yang disyaratkan oleh investor atau cost of equity (CoE) menjadi 7,5 persen. MNC Sekuritas memproyeksikan laba bersih BBCA akan tetap tangguh dalam jangka panjang yang didukung oleh pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP), efisiensi konsisten, dan modal yang kuat.

Namun, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perseroan diperkirakan masih menghadapi tekanan jangka pendek, dengan risiko perlambatan pertumbuhan kredit serta pemburukan situasi ekonomi makro.

Sebelumnya, laporan dari babelinsight.id menunjukkan bahwa tekanan jual oleh investor asing telah melanda seluruh kelompok perbankan berkapitalisasi pasar besar atau big banks sepanjang pekan lalu akibat efek pengumuman rebalancing indeks Global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Berdasarkan data perdagangan pekan lalu, BBCA mencatatkan net sell terbesar senilai Rp 2,24 triliun yang membuat harganya terkoreksi 3,39 persen ke posisi Rp 5.700. Pelepasan aset oleh asing juga melanda PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 855,37 miliar yang membuat harganya menyusut 3,28 persen ke level Rp 2.950.

Selanjutnya, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat net sell sebesar Rp 813,26 miilar dengan penurunan harga tipis 0,97 persen ke Rp 4.080, diikuti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang melemah 2,12 persen ke harga Rp 3.700 dengan net sell Rp 201,46 miliar.

Performa Saham Big Banks Pekan Lalu
Nama Emiten Kode Saham Harga Terakhir Persentase Penurunan
Bank Central Asia BBCA Rp 5.700 3,39%
Bank Rakyat Indonesia BBRI Rp 2.950 3,28%
Bank Negara Indonesia BBNI Rp 3.700 2,12%
Bank Mandiri BMRI Rp 4.080 0,97%

Melihat volatilitas yang terjadi, Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memperkirakan bahwa tingkat fluktuasi harga saham perbankan pada pekan pertama Juni 2026 tidak akan sedrastis pekan sebelumnya seiring meredanya efek sentimen indeks MSCI.

Nafan mengingatkan bahwa potensi kembalinya aksi beli oleh investor asing akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Di samping faktor eksternal tersebut, ia menegaskan bahwa kondisi internal serta fundamental dari keempat bank raksasa nasional itu tetap berada dalam kondisi yang sangat kokoh.

Kekuatan fundamental tersebut tercermin dari perolehan laba bersih hingga periode April 2026, di mana BBCA memimpin dengan keuntungan Rp 20,81 triliun, disusul BMRI sebesar Rp 18,05 triliun, BBRI senilai Rp 15,89 triliun, dan BBNI sebesar Rp 7,29 triliun.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author