Pelemahan Rupiah Dorong Penurunan IHSG Hingga Empat Persen
Nilai tukar rupiah yang terus merosot terhadap dolar AS memicu kejatuhan mendalam Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Analis saham MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengonfirmasi bahwa pergerakan indeks saham domestik tertekan hebat oleh pelemahan kurs tersebut.
Berdasarkan data perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada Rabu pukul 11.10 WIB, IHSG dilaporkan anjlok sebesar 255,71 poin atau 4,13 persen ke level 5.939,71. Penurunan ini memperlihatkan kelanjutan tekanan jual di pasar modal dalam negeri.
"Kami perkirakan koreksi yang terjadi di JCI (Jakarta Composite Index) saat ini disebabkan oleh adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang saat ini sudah mencapai Rp17.928 per dolar AS." ujar Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana saat dihubungi Antara.
Kondisi pasar kian terbebani oleh koreksi tajam dari kelompok saham kapitalisasi besar. Herditya Wicaksana menjelaskan bahwa emiten konglomerasi berbalik arah menjadi penekan utama setelah sempat menguat drastis.
"Di sisi lain, pergerakan IHSG dibebani oleh emiten-emiten konglomerasi yang selama dua hari belakangan ini bergerak menguat signifikan, bahkan mengalami auto reject atas (ARA)," ujar Herditya Wicaksana.
Melihat tren pergerakan pasar saat ini, grafik indeks saham dinilai masih berada dalam jalur penurunan. Herditya Wicaksana memproyeksikan bahwa potensi pembalikan arah atau penguatan kembali belum akan terjadi dalam jangka pendek.
"Dari sisi teknikal, pergerakan JCI masih berada di fase downtrend-nya, dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda pembalikan arah yang valid," ujar Herditya Wicaksana.
Di pasar valuta asing, posisi mata uang Garuda tercatat menyentuh level Rp17.928,50 per dolar AS pada pukul 11.10 WIB. Faktor eksternal berupa gejolak di kawasan global menjadi pemicu utama kemerosotan nilai tukar.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengaitkan jatuhnya mata uang rupiah dengan eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik tersebut berimbas langsung pada lonjakan harga komoditas energi global dan penguatan indeks dolar AS.
"Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia, WTI di 94,58 (dolar AS per barel), kemudian Brent crude oil pun mengalami penguatan di 96,72," kata Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi.