Rupiah Kembali Catat Rekor Terendah Sepanjang Sejarah, Tembus Rp17.925 per Dolar AS

Share

03 June 2026 13:12

Bloomberg Technoz, Jakarta – Rupiah kembali mencatatkan posisi terendahnya sepanjang sejarah. Dalam sesi perdagangan Rabu (3/6/2026) siang pukul 11:30 WIB, rupiah melemah 0,49% ke Rp17.925/US$, melanjutkan tren pelemahan sejak bulan lalu.

Pelemahan rupiah disebabkan oleh tekanan ganda. Pertama, rilisnya data ekonomi kemarin belum mampu menopang penguatan dan menghapus sentimen negatif yang selama ini membayangi rupiah.

Indonesia mencatatkan lonjakan inflasi menjadi 3,08% pada Mei. Inflasi periode Mei tak lagi hanya terjadi pada pangan, tetapi hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kelompok makanan dan minuman naik 4,94%, transportasi 2,3%, restoran 2,24%, kesehatan 1,70%, pendidikan 1,15%, hingga perawatan pribadi mencapai 10,35%.

Di sisi lain, indeks PMI manufaktur keluaran S&P Global naik menjadi 50 dari sebelumnya 49,1 pada April, namun aktivitas manufaktur kemungkinan masih akan mengalami fluktuasi.

Potensi pemulihan kemungkinan akan terjadi secara bertahap setelah sempat melemah pada April lantaran ketidakpastian di Timur Tengah dan perlambatan aktivitas ekonomi setelah siklus Lebaran usai.

Baca Juga

Sementara, dari sisi eksternal posisi indeks dolar AS meski sempat terkoreksi namun masih berada di posisi tinggi di level 99,07. Begitu juga dengan harga minyak mentah dunia bertahan di level US$93,44 per barel.

Kombinasi ini memberikan tekanan ganda bagi rupiah. Ditambah data defisit ganda yang berasal dari pelebaran defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan.

Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 yang tercatat defisit US$9,15 miliar. Jauh lebih dalam daripada defisit kuartal sebelumnya US$6,07 miliar.

Transaksi berjalan juga mencatat defisit sebesar US$4 miliar atau 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto. Angka ini memburuk tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih surplus US$2,5 miliar. Artinya, dalam satu kuartal saja terjadi perubahan sekitar US$6,5 miliar.

Pelemahan rupiah juga terus dibayangi oleh pergerakan investor di pasar obligasi. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) terpantau pada perdagangan siang ini masih mengalami inversi yield.

Yield tenor 1 tahun memang tercatat sedikit turun 3,1 basis poin (bps) namun masih tetap bertahan di level 7,03%. Sedangkan, penurunan yield tenor 10 tahun lebih besar 8,3 bps menjadi 6,67%.

Melansir data Bloomberg, aksi beli sedang terjadi pada sebagian besar tenor, terutama tenor menengah dan panjang.

Yield tenor 5 tahun turun 6,5 bps ke 6,71%, tenor 8 tahun turun 1,3 bps ke 6,78%, dan tenor i tahun turun 1,6 bps ke 6,75%. Sebagian aksi beli ini dilakukan pemerintah menggunakan Bond Stabilization Fund (BSF) dalam upaya menstabilkan nilai tukar rupiah yang semakin melemah dalam sesi perdagangan hari ini.

Meski begitu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai bahwa BSF perlu dievaluasi secara hati-hati apabila tujuannya adalah untuk membantu stabilisasi nilai tukar rupiah.

"Saya khawatir kita sedang mencoba menyelesaikan masalah rupiah dengan instrumen yang salah. Yang dibutuhkan pasar saat ini adalah kurva imbal hasil yang normal, bukan kurva yang terus ditahan dan distabilkan secara administratif," ujar Fakhrul.

Ia menjelaskan bahwa Bank Indonesia telah mengambil langkah besar melalui kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin. Kebijakan tersebut merupakan sinyal kuat bahwa stabilitas nilai tukar kini menjadi prioritas utama.

Namun demikian, menurut Fakhrul, kebijakan tersebut berpotensi kehilangan efektivitas apabila pada saat yang sama pasar obligasi justru dipaksa mempertahankan yield jangka panjang pada level yang terlalu rendah.

Menurut Fakhrul, kondisi kurva yield Indonesia saat ini merupakan salah satu yang paling datar dalam beberapa tahun terakhir. Dalam banyak tenor, imbal hasil obligasi jangka pendek dan jangka panjang berada pada level yang hampir sama.

Padahal secara normal, investor seharusnya memperoleh kompensasi lebih besar untuk menempatkan dana dalam jangka panjang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author