Elon Musk Benarkan Rumor Pembelian Twitter Terkait Transisi Gender Anaknya
Miliarder Elon Musk mengonfirmasi kebenaran rumor yang menyebutkan bahwa keputusan dirinya membeli platform Twitter dipicu oleh reaksi kecewa melihat anaknya menjadi seorang transgender, seperti dilansir dari Detik iNET pada Rabu (3/6/2026).
Spekulasi mengenai hubungan antara akuisisi senilai USD 44 miliar dengan transisi anak Musk yang kini bernama Vivian Wilson telah beredar selama bertahun-tahun melalui dokumen pengadilan Delaware. Dokumen tersebut mengaitkan pembelian dengan penangguhan akun tertentu serta sentimen anti-woke milik Musk.
Musk memberikan konfirmasi langsung berupa jawaban singkat satu kata melalui platform X saat menanggapi sebuah unggahan dari pengguna bernama Syd Steyerhart.
"Benar," jawab Musk.
Unggahan Steyerhart yang direspons oleh Musk tersebut membahas mengenai dampak transisi Vivian terhadap keterlibatan sang ayah di platform media sosial tersebut dan kaitannya dengan situasi politik terkini.
"Kita tidak boleh lupa bahwa jika bukan karena Vivian, Elon Musk tidak akan pernah terlibat, tidak akan pernah membeli Twitter, Kamala Harris akan menjadi Presiden dan sayap kiri akan memiliki kendali instrumental total atas pembangunan Skynet," demikian bunyi unggahan pengguna Twitter Syd Steyerhart, sebagai tanggapan terhadap foto Vivian dan berita tentang kampanyenya untuk merek pakaian dalam Rihanna.
Pemilik X tersebut kemudian melanjutkan pernyataannya melalui cuitan terpisah mengenai kondisi sang anak dan komitmennya melawan paham tertentu.
Dia menulis bahwa Vivian "dibunuh oleh virus pikiran woke, sekarang virus itu akan mati."
Sebelumnya, proses pembelian Twitter ini juga melibatkan pihak lain seperti CEO Babylon Bee, Seth Dillon, yang akun satirnya ditangguhkan akibat konten mengenai Asisten Menteri Kesehatan AS Laksamana Rachel Levine.
"Mungkin membelinya dan mengubahnya agar benar-benar mendukung kebebasan berbicara," balas Musk.
Pesan singkat tersebut dikirimkan Musk sebagai jawaban atas desakan dari mantan istrinya, Talulah Riley, yang meminta tindakan tegas setelah penangguhan akun Babylon Bee terjadi.
"Bisakah kamu membeli Twitter lalu menghapusnya, tolong!? Amerika menjadi GILA. Babylon Bee ditangguhkan itu gila," ujarnya.
Riley dalam rangkaian pesan tersebut juga menyatakan kekhawatirannya mengenai dampak eksploitasi media sosial oleh kelompok radikal dan menawarkan bantuan penuh untuk mengatasi masalah tersebut.
"Orau bisakah Anda membeli Twitter dan menjadikannya platform yang benar-benar mendukung kebebasan berbicara? Jujur saja, saya pikir media sosial adalah momok kehidupan modern… Tetapi sangat mudah untuk dieksploitasi dan digunakan oleh kaum radikal untuk rekayasa sosial dalam skala besar. Dan hal ini menginfeksi dunia. Tolong lakukan sesuatu untuk melawan paham 'woke'," imbuhnya.
Beberapa minggu setelah percakapan tersebut, Musk resmi mengajukan tawaran senilai sekitar Rp683 triliun untuk mengakuisisi perusahaan secara penuh.