PT Danantara Sumberdaya Indonesia Butuh Modal Kerja Ratusan Triliun

Share

PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diperkirakan memerlukan modal kerja sebesar Rp250 triliun hingga Rp330 triliun untuk menjalankan tata kelola ekspor satu pintu pada tiga komoditas alam andalan, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Rabu (3/6/2026).

Penaksiran kebutuhan dana untuk komoditas batu bara, minyak kelapa sawit (CPO), paduan besi (ferro alloy), beserta produk turunannya tersebut disampaikan oleh Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin. Angka ini dihitung dari potensi devisa tahunan ketiga sektor yang mencapai US$65 miliar atau setara Rp1.164 triliun.

Perusahaan perdagangan komoditas memerlukan dana operasional yang besar guna menutup persentase tertentu dari total penjualan berkala.

"Trader komoditas perlu modal kerja besar, sekitar 20%—25% dari total penjualan tahunan. Jadi DSI perlu working capital Rp250—Rp330 triliun," terang Wijayanto saat dihubungi, Rabu (3/6/2026).

Perhitungan tersebut disesuaikan kembali dengan total devisa tahunan yang dihasilkan oleh tiga komoditas utama Indonesia yang sebelumnya telah dipaparkan oleh pemerintah.

"Kemarin kan disebut devisa saja dari tiga komoditas itu mencapai Rp1.100 triliun per tahun. Jadi perlu working capital Rp250—Rp330 triliun," tambahnya.

Jumlah perolehan devisa ekspor tahunan senilai US$65 miliar dari tiga komoditas strategis itu sebelumnya diumumkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Detail nilai ekspor tahun 2025 mencakup minyak kelapa sawit sebesar US$23 miliar, batu bara US$30 miliar, dan paduan besi US$16 miliar.

"Ketiga komoditas strategis ini menghasilkan devisa US$65 miliar atau setara Rp1.100 triliun per tahun," kata Prabowo dalam pidatonya di Sidang Paripurna DPR RI, Rabu (20/5/2026).

Presiden Prabowo Subianto juga menyoroti posisi Indonesia sebagai anggota G-20 yang masih memiliki rasio belanja negara terhadap produk domestik bruto (PDB) sangat rendah jika disandingkan dengan negara-negara mitra lainnya.

"Rasio penerimaan kita paling rendah di antara negara G-20 dari data terbaru IMF. Kita bisa melihat rasio pendapatan Meksiko 25% dari PDB, India 20% dari PDB, Filipina 21% dari PDB, Kamboja saja 15% dari PDB, Indonesia 11%—12% dari PDB," ungkap Prabowo.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa kebijakan ekspor satu pintu tahap awal untuk batu bara, CPO, dan paduan besi ini sudah resmi dimulai pada Senin (1/6/2026). Pelaku usaha tetap menjalankan ekspor seperti biasa namun wajib melapor ke DSI.

"Dalam pelaporan ini dilayani oleh Bea Cukai dalam format akses portal CEISA 4.0 yang disiapkan oleh Dirjen Bea Cukai," kata Airlangga dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Minggu (31/5/2026).

Pemerintah menetapkan masa transisi ini berjalan selama tiga bulan dengan proses evaluasi berkala sebelum melangkah ke tahap berikutnya.

"Dengan demikian, para pengusaha atau eksportir dan pihak-pihak terkait memiliki waktu cukup untuk melakukan penyesuaian," tuturnya.

Implementasi penuh untuk kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia ini ditargetkan berjalan paling lambat pada 1 Januari 2027.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author