Malut United Resmikan Akademi Merah Putih Bersama SL Benfica

Share

Malut United menandai laga kandang pamungkas mereka di BRI Super League 2026/2027 dengan sebuah langkah besar. Seperti dilansir dari Bola, momen krusial pada Sabtu, 16 Mei 2026 tersebut dirangkaikan dengan peluncuran Akademi Merah Putih yang dibangun lewat kerja sama dengan klub raksasa Portugal, SL Benfica.

Pertandingan terakhir di Stadion Gelora Kie Raha ini dinilai sangat krusial oleh publik setempat. Antusiasme tinggi masyarakat Ternate terhadap sepak bola membuat laga penutup ini memikul beban target yang cukup besar dari para pendukung setia.

"Main kandang tapi sering kalah belakangan ini, laga terakhir seharusnya bisa menang. Orang Ternate itu gila bola semua," kata Erwin, petugas sekuriti di mes Malut United.

Bersamaan dengan perjamuan terhadap Persita Tangerang, manajemen juga menghadirkan delegasi resmi dari Benfica. Kolaborasi internasional ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem pembinaan usia dini di wilayah Indonesia Timur yang dikenal kaya akan bakat-bakat alamiah.

"Laga kandang terakhir Malut United, melawan Persita nanti, kita sekalian meresmikan dan mengumumkan kepada publik," kata Direktur Utama PT Maluku Sejahtera selaku perusahaan induk Malut United, Dirk Soplanit.

Lembaga pendidikan sepak bola ini dirancang dengan misi sosial yang spesifik. Fokus pembinaan akan menyasar anak-anak dalam rentang usia 7 hingga 9 tahun, dengan prioritas utama diberikan kepada anak-anak yatim piatu di kawasan Maluku Utara, Maluku, hingga Papua.

"Sebanyak 70 anak berusia 7-9 tahun akan kita godok selama 5 tahun. Anak-anak yang kita pilih adalah mereka yang kurang beruntung, yang tidak memiliki kesempatan yang sama seperti anak-anak lain pada umumnya," kata Dirk lagi.

Wilayah Maluku Utara secara historis konsisten mendistribusikan pemain berbakat ke panggung sepak bola nasional. Nama-nama populer seperti Ardi Idrus, Frets Butuan, Zulham Zamrun, Ilham Udin Armaiyn, Rizky Pora, hingga Abduh Lestaluhu merupakan sederet bukti nyata dari potensi lokal daerah ini.

Gairah sepak bola di Ternate menembus batas-batas status sosial warga. Pengakuan atas melimpahnya talenta lokal ini juga diutarakan langsung oleh perwakilan teknis dari pihak mitra Eropa.

"Saya sudah mendengar, saya juga melakukan riset, bahwa Maluku, khususnya Maluku Utara, sering melahirkan talenta luar biasa. Beberapa pemain Tim Nasional juga berasal dari sini," kata Benfica International Technical Coordinator, Davide da Rocha Gomes.

Davide menilai transfer pengetahuan secara berkelanjutan merupakan aspek krusial bagi kemajuan akademi lokal. Hubungan kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat penyerapan metodologi sepak bola modern yang tepat.

"Klub-klub harus terus berkembang, begitu juga akademi. Perlu ada alih ilmu yang berkelanjutan. Ini menjadi contoh yang baik tentang bagaimana kami memulai proses transfer pengetahuan tersebut. Anda harus mencari tempat terbaik untuk mendapatkan pengetahuan terbaik agar proses itu bisa berjalan lebih cepat."

Aspek Historis dan Kekayaan Rempah Ternate

Kehadiran delegasi Portugal di tanah Maluku menguak kembali memori sejarah masa lalu. Ratusan tahun lalu, bangsa Portugis mendarat di pesisir wilayah ini dengan misi perdagangan rempah-rempah serta penyebaran agama.

Jejak kedekatan historis tersebut masih dapat disaksikan melalui keberadaan bangunan tua Gereja Katolik Santo Willibrordus. Selain itu, status Maluku sebagai pusat penghasil utama cengkeh dan pala dunia menjadikannya komoditas bernilai tinggi di pasar Eropa masa lampau.

Warisan rempah yang melimpah ini turut memengaruhi cita rasa kuliner khas Ternate, khususnya dalam mengolah hasil laut segar berkualitas tinggi. Kedekatan geografis dengan laut membuat para pelaku kuliner lokal mendapatkan pasokan ikan secara langsung dari tangan pertama.

"Gohu, itu adalah sashimi ala Ternate, rasanya enak sekali. Aman kita konsumsi walaupun ya orang bilang mentah ya, cuma pakai rempah saja dan bumbu-bumbu, sebab di sini ikannya mati sekali," terang Erwin lagi.

Sajian berbasis ikan mendominasi konsumsi harian masyarakat di sekitar Gunung Gamalama. Salah satu menu populer yang tersedia sepanjang hari hingga tengah malam adalah nasi kuning bagadang atau nasbak, yang disajikan dengan pilihan lauk telur rebus atau ikan cakalang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author