Dokter Bagikan Waktu Tepat Kenalkan Botol Susu pada Bayi ASI

Share

Banyak ibu menyusui merasa khawatir memberikan air susu ibu (ASI) melalui botol karena adanya risiko bingung puting pada anak. Persiapan dalam memperkenalkan botol susu pada bayi memerlukan pemilihan waktu yang tepat agar tidak mengganggu proses menyusui langsung.

Dilansir dari HaiBunda, tidak semua anak dapat langsung menerima minum ASI dari botol. Sebagian bayi sering kali menolak dan tetap ingin menyusu langsung dari ibunya, meskipun ada juga yang langsung berhasil tanpa kendala.

Para ibu disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau konselor laktasi sebelum mengenalkan botol susu. Langkah ini penting agar momen tersebut dilakukan pada waktu yang tepat dan tidak mengganggu proses mengASIhi.

Pengenalan botol susu dapat mulai dilakukan setelah proses menyusu langsung pada payudara sudah berjalan dengan baik. Ibu harus menghindari pemberian susu botol jika masih terdapat masalah dalam proses menyusui langsung karena bisa memicu kebingungan pada bayi.

Setelah memasuki fase empat minggu menyusui atau sebulan pasca-persalinan, ibu bisa mulai memompa ASI setiap selesai menyusui. Pemompaan juga dapat dilakukan saat payudara masih terasa sedikit penuh setelah bayi selesai menyusu.

Kebiasaan memompa ini bertujuan untuk mengosongkan payudara secara maksimal. Setelah sesi pemompaan selesai, ASI perah tersebut harus segera dimasukkan dan dibekukan ke dalam freezer.

Mengetahui kebutuhan ASI harian bayi juga menjadi hal yang sangat penting. Ibu dapat menghitung total kebutuhan tersebut dari jumlah ons yang dikonsumsi bayi setiap hari, atau meminta bantuan dokter anak dan konsultan laktasi jika merasa ragu.

Target volume pada botol pertama didapatkan dengan membagi total keseluruhan kebutuhan ASI dengan frekuensi bayi menyusu dalam sehari.

Sebagai gambaran, jika bayi mengonsumsi sekitar 24 ons sehari dan menyusu antara 8 hingga 12 kali, berarti bayi mengonsumsi 2 hingga 3 ons per sesi. Ibu bisa memompa ASI hingga memiliki botol ukuran 2 ons, lalu menyiapkan beberapa botol ukuran setengah ons untuk cadangan.

Dikutip dari laman American Pregnancy, kesiapan mengenalkan botol susu dimulai ketika ibu telah menyimpan cukup banyak stok ASI perah yang setara dengan porsi makanan biasa ditambah sedikit cadangan.

Cara Mengenalkan Botol Susu Secara Bertahap

Pemberian botol susu sebaiknya dilakukan secara bertahap agar bayi memiliki kendali lebih besar atas aliran susu dan jumlah yang diminum. Pola ini menjadi metode yang baik untuk transisi dari menyusu langsung ke botol.

Langkah pertama adalah memegang bayi dalam posisi tegak saat ingin memberikan susu melalui botol.

Selanjutnya, sentuh bibir bayi ke puting botol dan tunggu sampai mulut bayi terbuka dengan lebar.

Pegang botol secara horizontal atau mendatar untuk memperlambat aliran susu yang keluar dari dot.

Pastikan bayi menempel dengan dalam pada bagian puting botol saat mulai menyusu.

Setelah bayi mulai minum selama 5 hingga 10 detik, berikan jeda dengan cara menurunkan botol atau mengambil botol dari mulutnya.

Metode bertahap ini dapat membantu memberikan isyarat kepada bayi ketika mereka sudah kenyang. Sinyal kenyang biasanya ditunjukkan saat bayi memalingkan muka dari botol atau mengendurkan kepalan tangannya.

Ibu juga dapat memasukkan ASI sedikit di bawah kebutuhan pada awal pengenalan botol, lalu menambahkannya perlahan jika bayi menunjukkan isyarat masih lapar. Sisa ASI di dalam botol harus segera dibuang dua jam setelah pemberian selesai.

Proses pemberian susu botol secara bertahap ini biasanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit sampai bayi memberikan isyarat kenyang.

Laman Breastmilkcounts menyebutkan bahwa siapa pun yang memberikan ASI melalui botol harus menerapkan metode bertahap ini agar bayi lebih mudah beralih antara botol dan payudara.

Menjaga Pasokan ASI Tetap Stabil

Pasokan ASI bekerja berdasarkan sistem permintaan dan penawaran, di mana semakin banyak ASI yang dikeluarkan atau dipompa, maka semakin banyak pula produksi tubuh. Setiap kali bayi minum dari botol, sesi menyusui yang terlewat harus segera digantikan dengan sesi memompa.

Sebagai contoh, ibu bisa memompa ASI setelah menyusui di pagi hari, kemudian menawarkan ASI perah tersebut dalam botol di waktu lain. Banyak ibu yang memompa pada pagi hari dan meminta pasangan mereka memberikan ASI tersebut menggunakan botol saat malam hari.

Jika beberapa sesi memompa menghasilkan ASI yang lebih banyak dari kebutuhan bayi, sisa ASI perah dapat disimpan di dalam lemari es atau freezer untuk penggunaan di kemudian hari.

Rutin menyusui atau memompa sangat penting untuk terus mengirimkan sinyal produksi ke tubuh, dengan target 8 hingga 12 sesi setiap hari. Ibu disarankan tidak mengosongkan sesi memompa lebih dari 6 jam dalam periode 24 jam agar pasokan ASI tidak terganggu.

Membuat jadwal rutin adalah cara termudah untuk menjaga kelancaran pasokan ASI. Membawa pompa tangan atau pompa listrik sepanjang hari dapat membantu menjaga rutinitas pemompaan meskipun ibu sedang berada di luar rumah.

Takaran ASI di Dalam Botol

Mayoritas bayi yang berusia antara 1 hingga 6 bulan akan mengonsumsi sekitar 3 hingga 5 ons ASI sebagai pengganti satu sesi menyusui langsung.

Jika bayi hanya mengonsumsi ASI dari botol, siapkan sekitar delapan botol setiap hari dengan target konsumsi 24 hingga 36 ons ASI per 24 jam. Konsultasi dengan dokter atau konselor laktasi tetap diperlukan untuk memastikan jumlah konsumsi yang tepat lewat pemantauan berat badan.

Tanda-tanda lapar atau kenyang pada bayi harus tetap diperhatikan. Pemberian ASI dianggap selesai ketika bayi berhenti membuka mulut, tidak mencari botol, memalingkan kepala, melengkungkan tubuh, atau tertidur.

Ibu tidak perlu memaksa bayi menghabiskan isi botol susu setelah mereka menunjukkan isyarat kenyang. Sisa ASI yang tidak habis masih bisa digunakan dalam jangka waktu 2 jam setelah bayi selesai menyusu.

ASI yang sudah melewati batas waktu 2 jam harus dibuang dan tidak boleh diberikan kembali karena bakteri dari mulut bayi sudah masuk ke dalam susu melalui puting botol. Bakteri yang berkembang setelah 2 jam berisiko tinggi membuat bayi menjadi sakit.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author