Saham BUMI Ambles 56 Persen Sejak Awal Tahun di Tengah Aksi Jual Investor Kakap
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terpantau melanjutkan tren koreksi signifikan hingga penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026). Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, saham emiten kongsi Grup Salim dan Bakrie ini minus 4,17 persen ke level Rp161 per saham pada penutupan perdagangan kemarin.
Kinerja saham BUMI tercatat telah ambles 56,01 persen sejak awal tahun ini. Penurunan ini terjadi di tengah indeks harga saham gabungan (IHSG) yang belakangan bergerak menguat, meskipun tekanan jual asing tetap besar pada perdagangan kemarin.
Berdasarkan data lantai bursa, BUMI mencatat net foreign sell sekitar Rp20,8 miliar pada perdagangan kemarin. Jika ditarik sejak awal 2026, posisi net foreign sell di saham BUMI kini telah mencapai Rp8,71 triliun.
Sejumlah investor institusi belakangan dilaporkan mengurangi porsi kepemilikan mereka di saham BUMI sejak awal tahun. Pengelola dana investasi Dimensional Fund Advisors LP menjadi salah satu yang menjual sebagian kepemilikannya secara bertahap saat saham BUMI mulai goyah sejak akhir 2025.
Dimensional Fund Advisors melepas 91,82 juta lembar saham BUMI pada kuartal IV-2025 dengan harga rata-rata divestasi Rp246,87 per saham. Perusahaan manajemen investasi tersebut kembali menjual sekitar 85,99 juta saham BUMI pada kuartal I-2026 di harga rata-rata Rp308,67 per saham.
Melalui divestasi bertahap itu, Dimensional Fund Advisors saat ini memegang sekitar 738,01 lembar saham BUMI. Posisi kepemilikan tersebut dilaporkan tidak bergeser sampai perdagangan awal bulan ini.
Valuasi kepemilikan Dimensional Fund Advisors di BUMI kini setara dengan Rp124,73 miIiar, dengan harga perolehan rata-rata atau cost basis per share sebesar Rp143,43. Perusahaan tersebut mulai menghimpit saham BUMI sejak September 2022 lalu.
Dengan demikian, Dimensional Fund Advisors masih mencatatkan floating gain sekitar 18,88 persen pada posisi saham BUMI di level Rp170 per saham hingga penutupan perdagangan sesi I, Selasa (2/6/2026). Namun, saham BUMI telah merosot separuh dari harga tertingginya di level Rp464 per saham pada 5 Januari 2026.
Investor kakap lainnya seperti WisdomTree Inc dan Van Eck Associates Corp turut mengikuti manuver untuk melepas sebagian saham BUMI. Kendati demikian, Van Eck Associates Corp belakangan cenderung berbalik arah.
WisdomTree tercatat melepas sekitar 10,15 juta saham BUMI selama dua bulan terakhir. Perusahaan manajemen aset global tersebut saat ini menghimpit 49,69 juta lembar saham BUMI.
Sementara itu, posisi kepemilikan Van Eck Associates Corp telah berkurang sekitar 9,46 juta lembar sejak awal tahun. Saat ini Van Eck Associates menghimpit 37,91 juta lembar saham BUMI melalui akumulasi beli yang belakangan berlangsung sejak April 2026.
Di sisi lain, Blackrock Inc mengambil posisi berlawanan dengan menambah porsi saham di BUMI. Perusahaan tersebut memborong sekitar 222,53 juta lembar saham selama dua bulan terakhir di level harga rata-rata Rp218 per saham.
Melalui akumulasi itu, Blackrock kini menguasai 2,13 billion saham BUMI atau setara 0,57 persen saham beredar. Harga rata-rata perolehan saham tersebut adalah Rp114,17 per saham dengan valuasi kepemilikan setara Rp360,64 miIiar.
Dari sisi kinerja keuangan, BUMI membukukan laba bersih sekitar US$24,1 juta pada kuartal I-2026. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 35,2 persen dari posisi yang sama pada tahun sebelumnya.
Pendapatan perseroan juga mengalami pertumbuhan sebesar 19,7 persen menjadi US$417,7 juta. Berdasarkan keterangan resmi manajemen, peningkatan volume produksi dan penjualan serta perbaikan strip ratio berhasil mengkompensasi penurunan harga jual rata-rata batu bara sebesar 10 persen.
Margin usaha BUMI bergerak ke level 11,7 persen dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang berada di kisaran 8 persen. Manajemen mengonfirmasi ekspansi margin ini ditopang oleh peningkatan volume produksi serta perbaikan struktural pada strip ratio.
“Ekspansi margin ini ditopang oleh peningkatan volume produksi dan penjualan batu bara, serta perbaikan struktural pada strip ratio,” dikutip dari siaran pers.
BUMI mencatat volume produksi batu bara sebesar 19,2 juta ton atau naik 12 persen secara tahunan. Sementara itu, volume penjualan batu bara meningkat 14 persen menjadi 19,1 juta ton.
Untuk tahun penuh 2026, manajemen BUMI menargetkan total produksi batu bara dapat mencapai 76 juta ton sampai 78 juta ton. Harga rata-rata penjualan diproyeksikan berada pada kisaran US$60 per ton sampai US$62 per ton.