Rupiah Melemah ke Rp17.877 per Dolar AS Akibat Sentimen Global
Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke level Rp17.877/US$ pada pukul 07:30 WIB dalam perdagangan pasar Non-Deliverable Forward (NDF), Rabu (3/6), akibat tekanan sentimen eksternal dan domestik yang dilansir dari Bloomberg Technoz.
Kondisi pasar global memperlihatkan indeks dolar AS bertahan tinggi pada level 99,25 di tengah ketidakpastian global, sementara harga minyak Brent melonjak hingga US$96,91 per barel akibat gangguan pasokan di Timur Tengah.
Mata uang di kawasan Asia turut bergerak terbatas dengan pelemahan pada ringgit Malaysia sebesar 0,33%, yuan offshore 0,03%, serta dolar Singapura 0,01%, sedangkan dolar Taiwan dan dolar Singapura terpantau menguat terbatas.
Dari dalam negeri, indeks PMI manufaktur Indonesia periode Mei 2026 dari S&P Global sebenarnya naik ke level 50 dari sebelumnya 49,1 pada April, namun pesanan ekspor mengalami kontraksi terdalam sejak Agustus 2021.
"Pelemahan tersebut mencerminkan gangguan yang masih berlangsung pada arus perdagangan global akibat konflik yang dipicu oleh perang Iran," sebut laporan Samuel Sekuritas.
Tekanan domestik juga diperberat oleh lonjakan inflasi Indonesia yang mencapai 3,08% pada Mei akibat kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran seperti perawatan pribadi sebesar 10,35% dan makanan minuman 4,94%.
Secara teknikal, pergerakan rupiah berisiko melanjutkan pelemahan menembus support Rp17.870/US$ menuju Rp17.900/US$, dengan target paling pesimistis jangka pendek pada level Rp18.000/US$ serta level resistance terdekat di Rp17.800/US$.