Marco Rubio Bela Operasi Militer Amerika Serikat di Iran
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mempertahankan kebijakan operasi militer negaranya di Iran serta strategi kesehatan masyarakat global pemerintahan Donald Trump dalam dua sesi dengar pendapat di Kongres pada Selasa (2/6). Pembelaan keras tersebut disampaikan Rubio saat menghadapi berbagai pertanyaan kritis dari politisi Partai Demokrat di tengah memburuknya wabah Ebola, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Pemerintah Amerika Serikat mengeklaim Operasi Epic Fury berhasil melumpuhkan sebagian besar kekuatan rudal dan angkatan laut Iran, meski Teheran masih memiliki banyak drone tempur dan memasang ranjau di Selat Hormuz. Dampak operasi militer tersebut memicu penutupan jalur perairan strategis oleh Teheran dan menyebabkan lonjakan tajam harga energi global.
"Operasi Epic Fury—sebagian dari Anda mungkin tidak menyukainya, sebagian lagi mendukung—sangat sukses dalam mencapai tujuan militernya, yaitu secara dramatis memangkas basis industri pertahanan Iran," ujar Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.
Penegasan tersebut disampaikan Rubio di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat, tempat ia pernah menjabat sebagai anggota sebelum masuk kabinet. Politisi Partai Demokrat memanfaatkan sidang publik pertama sejak Januari ini untuk menyudutkan Rubio dan Trump sebagai perancang perang gagal yang menaikkan harga bahan bakar serta gagal mengekang program nuklir Iran.
"Kebijakan luar negeri Trump telah berubah menjadi bencana total," tegas Chris Van Hollen, Senator Demokrat asal Maryland.
Sebelum memberikan pernyataan itu, Van Hollen menyindir bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menunggu selama 40 tahun untuk menemukan presiden Amerika Serikat yang bersedia bergabung mengobarkan perang melawan Iran. Selain isu Iran, Rubio juga dicecar terkait penanganan wabah Ebola di Afrika setelah pembubaran USAID dan keluarnya Amerika Serikat dari WHO.
"Nah, program-program itu telah dibubarkan dan sekarang kita harus melakukan pemeriksaan Ebola di Bandara Dulles, bukan di Republik Demokratik Kongo dan Uganda yang berjarak lebih dari 7.000 mil dari sini," ujar Jeanne Shaheen, Anggota Demokrat Senior di Komite Senat.
Saat melontarkan kritik tersebut, Shaheen menunjukkan poster besar berisi kutipan pernyataan Elon Musk yang mengakui adanya penghentian sementara program pencegahan Ebola akibat pemangkasan anggaran. Menanggapi situasi di Timur Tengah, Rubio menyatakan ada peluang kerja sama dengan Teheran dalam beberapa hari mendatang terkait penghentian pengembangan senjata nuklir.
Kendati demikian, Presiden Donald Trump terus menunjukkan sikap berubah-ubah antara optimisme negosiasi dan ancaman serangan baru, sementara tuntutan pembukaan kembali Selat Hormuz belum dipenuhi Iran. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari ini terus menekan pasar global menjelang pemilu sela.
Kondisi ekonomi dunia yang terdampak akibat penutupan jalur laut tersebut juga mendapat sorotan tajam dari anggota parlemen lain yang mengkritik ketidakjelasan pesan dari pemerintah Amerika Serikat.
"salah satu hal yang secara tidak sengaja kami hentikan untuk sementara adalah program pencegahan Ebola."" kata Elon Musk, Pemimpin Kebijakan Pemangkasan Anggaran AS dalam kutipan poster yang ditunjukkan di sidang.
Di sisi lain, pihak Iran pada Senin telah memutuskan untuk menangguhkan pembicaraan damai yang kini memasuki bulan keempat. Teheran menuntut penghentian bentrokan antara Israel dan milisi Hizbullah di Lebanon terlebih dahulu sebelum kesepakatan lebih luas dapat dicapai.
Rangkaian sidang pembicaraan anggaran tahunan ini diperkirakan masih akan terus mendominasi agenda kerja Rubio di Capitol Hill pekan ini. Setelah menyelesaikan sidang di Senat dan subkomite DPR AS pada Selasa, Rubio dijadwalkan kembali menghadiri dua sidang lanjutan pada Rabu.