Bursa Asia Bersiap Menguat Mengekor Tren Positif Wall Street

Share

Pasar saham di wilayah Asia bersiap bergerak di zona hijau pada perdagangan Rabu, mengekor performa positif yang dicatatkan Wall Street. Berdasarkan data yang dikutip dari Bloombergtechnoz, kembalinya gairah investor terhadap sektor kecerdasan buatan sukses membuat indeks S&P 500 menguat selama sembilan hari berturut-turut.

Di sisi lain, pergerakan harga minyak mentah terpantau stabil di tengah ketidakpastian sinyal perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Kontrak berjangka saham menunjukkan adanya potensi pembukaan yang lebih tinggi untuk bursa Tokyo dan Sydney, meskipun kontrak untuk bursa Hong Kong sempat terkoreksi tipis.

Lonjakan saham produsen cip hingga hampir 6% pada perdagangan Selasa kemarin menjadi penopang utama indeks S&P 500 dalam mencetak rekor tren penguatan terpanjang sejak Mei 2025. Sementara itu, nilai minyak mentah AS tidak banyak berubah pada perdagangan Rabu pagi setelah sempat melonjak lebih dari 7% dalam dua sesi sebelumnya.

Kenaikan harga minyak tersebut dipicu oleh laporan sejumlah kantor berita Iran yang menyuarakan keraguan atas kemajuan perundingan dengan pihak Washington. Kondisi pasar modal dan komoditas ini pun mendapat perhatian luas dari para analis global.

"Sektor teknologi terus mendominasi pasar," ujar pakar strategi veteran, Louis Navellier. "Trennya tetap positif, di mana katalis untuk keuntungan material yang lebih besar sangat mungkin terjadi jika tercapai resolusi dengan Iran."

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya tetap optimistis kesepakatan damai sementara dengan Iran dapat segera tercapai dalam waktu dekat. Ia juga membantah kabar dari media pemerintah Iran yang menyebutkan pembicaraan tersebut ditangguhkan akibat eskalasi pertempuran di Lebanon.

Trump memberikan penegasan bahwa komunikasi antara kedua belah pihak terus berjalan secara intensif, termasuk yang berlangsung pada hari ini. Di pihak lain, kantor berita Mehr melaporkan bahwa para pejabat di Teheran tengah mendiskusikan draf akhir teks kesepakatan yang akan dikirimkan ke AS.

Fokus utama pada pasar minyak saat ini masih tertuju ke Selat Hormuz, jalur krusial yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak serta gas alam cair global sebelum konflik pecah. Hingga saat ini, lalu lintas perdagangan komersial di jalur perairan tersebut dilaporkan masih sangat terbatas.

Meskipun dunia usaha global dibayangi oleh lonjakan biaya energi dampak ketegangan dengan Iran, data lapangan pekerjaan di AS secara mengejutkan melonjak pada bulan April ke level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Penurunan angka PHK yang terjadi bersamaan dengan lonjakan tersebut memperkuat sinyal ketangguhan pasar tenaga kerja AS.

"Pasar tenaga kerja terus mempertahankan posisinya," kata Bret Kenwell dari eToro. "Ada harapan bahwa harga energi akan turun setelah lonjakan akibat isu geopolitik pada kuartal pertama. Kondisi ini memungkinkan The Fed untuk menahan suku bunga sementara inflasi mereda di paruh kedua tahun ini. Jika hal itu berpadu dengan ekspektasi pertumbuhan laba perusahaan, maka harga saham bisa terdorong lebih tinggi."

CEO Goldman Sachs Group Inc, David Solomon, menilai bahwa kenaikan tajam di pasar saham saat ini didorong oleh besarnya minat investor dalam memburu keuntungan. Dorongan ini dinilai berhasil mengalahkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko inflasi dan gangguan ekonomi.

"Kita pastinya sedang berada di momen di mana keserakahan (greed) jauh lebih besar daripada rasa takut (fear)," ujar Solomon saat berbicara di Economic Club of New York pada hari Selasa. "Dana modal itu tersedia."

Dari pasar valuta asing, mata uang yen bergerak melemah mendekati level 160 per dolar AS pada perdagangan Selasa seiring sikap pelaku pasar yang menanti pidato Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda. Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau stabil dan pasar obligasi ditutup bervariasi.

Untuk sektor investasi lainnya, penjualan obligasi berperingkat layak investasi di AS telah menembus angka US$1 triliun, tercapai lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak 2020. Fenomena ini dipicu oleh selisih imbal hasil yang rendah secara historis serta tingginya belanja korporasi untuk pengembangan AI, sementara aset digital Bitcoin justru bergerak merosot akibat memburuknya sentimen pasar.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author