Kebakaran Hanguskan 250 Rumah di Kemayoran Ratusan Keluarga Terdampak
Kebakaran hebat melanda permukiman padat di Jalan Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat. Peristiwa tragis ini menghanguskan sedikitnya 250 rumah warga dan menyebabkan ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal.
Dampak dari musibah besar ini merugikan sekitar 350 keluarga, seperti dilansir dari Detikcom. Berdasarkan data sementara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, amukan si jago merah merusak 304 bangunan serta berdampak langsung pada 354 keluarga dengan total 679 jiwa.
Petugas pemadam kebakaran membutuhkan waktu hingga 7 jam untuk menjinakkan kobaran api. Informasi awal kebakaran diterima pada Senin (1/6/2026) sekitar pukul 20.55 WIB, disusul operasi pemadaman dari pukul 21.05 WIB hingga akhirnya selesai total pada Selasa (2/6/2026) pukul 04.15 WIB.
Kapolsek Kemayoran Kompol Agung Ardiyansyah menerangkan pihak kepolisian mendapatkan laporan insiden ini pada Senin (1/6/2026) malam pukul 21.10 WIB. Titik kebakaran berada di kawasan belakang Pasar Jiung, RT 002 atau Gabungan RW 04.
"Pada hari Senin tanggal 01 Juni 2026 sekira pukul 21.10 WIB, Polsek Kemayoran mendapatkan informasi telah terjadi kebakaran di Kemayoran Gempol belakang Pasar Jiung, RT 002 atau Gabungan RW. 04 Kel. Kebon Kosong Kemayoran Jakpus," kata Agung kepada wartawan, Selasa (2/6).
Titik awal api diduga berasal dari dua rumah warga akibat hubungan pendek arus listrik atau korsleting. Menurut keterangan saksi mata di lokasi kejadian, kobaran api muncul mendadak lalu membesar dalam waktu singkat.
"Menurut keterangan dari Saksi 1 sekitar Pukul 21.00 WIB, tiba-tiba Api muncul dari 2 rumah di belakang saksi, diketahui rumah Bapak Darmansyah (dugaan awal) korsleting listrik dan tiba tiba langsung membesar," ungkap Agung.
Upaya awal dari warga sekitar untuk memadamkan kobaran api sempat dilakukan menggunakan alat pemadam api ringan (APAR). Namun, keterbatasan alat membuat amukan api tidak dapat dibendung.
"Lalu oleh beberapa warga sekitar langsung berupaya memadamkan menggunakan 3 Buah APAR milik Sekretariat RW. 04, namun api sudah menyala membesar," katanya.
Musibah ini mengakibatkan tiga orang warga mengalami luka-luka dan segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.
"Korban luka, 3 orang dengan perincian 2 orang di RS Hermina Kemayoran & 1 orang dirujuk ke RSCM," kata Agung.
Kondisi Lokasi Pascakebakaran
Pantauan di lokasi pada Selasa (2/6/2026) pukul 08.50 WIB menunjukkan sisa-sisa kehancuran permukiman tersebut. Garis polisi telah terpasang mengelilingi lokasi kejadian, sementara petugas pemadam kebakaran masih bersiaga mengantisipasi munculnya titik api baru.
Sejumlah warga terdampak mulai membersihkan puing-puing bangunan semipermanen milik mereka. Beberapa di antaranya tampak mencari sisa-sisa harta benda yang kemungkinan masih bisa diselamatkan dari abu kebakaran.
Nestapa dan Cerita Korban Selamat
Kehilangan harta benda menyisakan duka mendalam bagi para korban, salah satunya adalah Lilis (46). Rumah tinggalnya hangus rata dengan tanah bersama seluruh uang tabungan yang direncanakan untuk biaya wisuda anaknya di Solo.
Lilis menceritakan bahwa rembetan api menjalar sangat cepat karena mayoritas bangunan di wilayah tersebut berupa bangunan semipermanen dari tripleks. Dirinya tidak sempat mengevakuasi barang-barang berharga miliknya.
"Ada kebakaran, ada kebakaran gitu lah. Saya kan tinggalnya di atas dekat tanaman dia. Saya langsung turun. Api itu udah warga sudah ada yang nyiramin, saya aja ikut nyiramin sama suami saya," kata Lilis.
Warga sempat mencoba memadamkan api secara swadaya menggunakan penampungan air keran di rumah masing-masing, tetapi kobaran justru kian membesar setelah mengenai tiang dan kabel listrik.
"Pakai air dari keran aja. Kita penampungan seember guyurin, eh habis diguyur malah tambah gede. Itu kan kabel-kabel semua, tiang listrik. Cepat banget kejadiannya," ujarnya.
Saat situasi semakin genting, Lilis memilih menyelamatkan diri dan mengabaikan seluruh perabotan rumah tangganya.
"Saya nggak mikirin barang saya sendiri. Pas api membesar, saya langsung keluar. Sempat narik mukena sama sajadah terus dilemparin ke bawah, habis itu kabur," tuturnya.
Kisah pilu lain datang dari Saodah yang terpaksa melarikan diri menggunakan tongkat di tengah kerumunan massa saat mendengar teriakan kebakaran sekitar pukul 22.00 WIB.
"Aku lagi tiduran, udah jam 10 malam. Kok rame-rame ada apa, api… api… lari saja," kata Saodah.
Lantaran posisi huniannya berada dekat dengan titik api, Saodah langsung keluar menyelamatkan diri sendirian karena terpisah dari anak-anaknya.
"Api udah di pojok, udah dekat saya di pojokan. Jadi saya lari aja, kabur," ujarnya.
Saodah sempat berjalan menjauh hingga mengamankan diri di sebuah armada bajaj sambil menunggu anggota keluarganya mencari keberadaannya.
"Anaknya pada lari sendiri-sendiri, kabur sendiri-sendiri. Jadi saya sendirian lari di jalan pakai tongkat," tuturnya.
Saodah mengalami syok dan mengeluhkan sakit pada bagian punggungnya sebelum akhirnya bertemu kembali dengan anak-anaknya dua jam kemudian.
"Sampai sini, dekat bajaj, aku duduk di bajaj sendirian. Punggung sakit, gemeteran. Terus aku duduk di bajaj, anak saya pada nyari," katanya.
Pertemuan kembali dengan pihak keluarga baru terjadi menjelang tengah malam setelah situasi mulai terkendali.
"Lama, dari jam 10 sampai jam 12," lanjutnya.
Peringatan Pemerintah Terkait Instalasi Listrik
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyampaikan rasa prihatin mendalam saat melakukan peninjauan langsung di lokasi pemukiman padat Kelurahan Kebon Kosong ini. Pemerintah daerah mengingatkan pentingnya aspek keamanan instalasi listrik.
"Pemprov DKI prihatin dengan kejadian ini. Sekali lagi, yang bisa kita lakukan adalah mengulangi, me-warning kepada masyarakat, yang harus pertama kali dijaga adalah listrik," kata Rano.
Berdasarkan data evaluasi jajaran Pemprov DKI Jakarta, mayoritas musibah kebakaran di wilayah Ibu Kota dipicu oleh masalah hubungan pendek arus listrik.
"Karena di Jakarta ini hampir rata-rata kebakaran terjadi karena korsleting listrik. Itu berdasarkan survei kita hampir 95 persen," ujarnya.
Rano Karno menyoroti kebiasaan penggunaan stopkontak yang melebihi beban kapasitas muatan listrik, terutama di kawasan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi.
"Saya minta maaf, teman-teman tahu bagaimana situasinya. Kadang-kadang dalam rumah seperti ini ada satu stopkontak dicolok 10 charger HP, kemudian belum buat kompor segala macam. Akibatnya inilah, terjadi panas," tuturnya.
Kondisi penumpukan beban listrik tersebut dinilai memicu akumulasi panas yang berujung pada terjadinya hubungan pendek arus listrik.
"Sebetulnya dari semalam saya ingin ke sini, cuma dari Pak Wali menyarankan jangan dulu karena akan terjadi kekacauan. Kadang-kadang, kalau saya hadir, bukan menjadi enak, tapi menjadi ribet," katanya.
Dalam tinjauan tersebut, Rano Karno turut menyampaikan pesan serta salam dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang sedang berada di Madinah, Arab Saudi.
"Sebelum berangkat beliau menelepon saya dari Madinah, kirim salam kepada masyarakat, mudah-mudahan sabar menghadapi musibah ini," ujarnya.
Seluruh warga yang kehilangan tempat tinggal sementara waktu ini diakomodasi di posko pengungsian darurat yang disediakan oleh pemerintah daerah setempat.