Wanita Asal Taiwan Alami Sembelit Kronis Selama Puluhan Tahun

Share

Seorang wanita berinisial J di Taiwan mengalami gangguan pencernaan berupa sembelit kronis parah yang membuatnya sulit buang air besar selama 23 tahun sejak masa kanak-kanak. Kondisi medis tidak biasa ini memicu perhatian luas setelah kisah medisnya dibagikan ke media sosial, sebagaimana dilansir dari Detik Health.

Penderitaan tersebut berujung pada rekor terlama bagi dirinya yang sempat tidak bisa buang air besar sama sekali selama 17 hari berturut-turut. Saat penumpukan kotoran tersebut akhirnya berhasil keluar, feses yang diekskresikan hanya berbentuk butiran kecil menyerupai kotoran domba.

Berbagai upaya konvensional mulai dari meningkatkan konsumsi air putih hingga memperbanyak makan sayuran sudah dicoba, namun seluruh langkah tersebut tidak membuahkan hasil. Pemeriksaan medis melalui prosedur rontgen akhirnya dipilih untuk mendeteksi akar permasalahan pencernaan itu.

Pihak National Yang-Ming University di Taipei melalui seorang konsultan menyatakan bahwa meskipun posisi usus besar pasien mengalami pergeseran yang sangat besar, organ tersebut sebenarnya belum mencapai organ jantung. Berdasarkan data pembaruan terakhir pada 27 Desember 2020, pasien terus mempertimbangkan keputusan tindakan operasi pengangkatan organ untuk tahun 2021.

Secara medis, Mayo Clinic menjelaskan bahwa konstipasi kronis dipicu oleh pergerakan tinja yang terlalu lambat di dalam kolon sehingga tubuh menyerap terlalu banyak air. Sumbatan mekanis pada usus besar atau rektum akibat perubahan jaringan hingga keberadaan tumor dapat mengganggu kinerja otot serta saraf ekskresi.

"Ketika masih kecil, saya hanya bisa buang air besar setelah duduk di toilet selama satu hingga dua jam," beber J.

Kasus ini menimbulkan beban psikologis tersendiri karena gejala klinis rasa sakit yang ekstrem tidak terlihat secara kasat mata oleh lingkungan sosial sekitar pasien.

"Dari luar saya terlihat normal dan memiliki kepribadian yang ceria. Tetapi, saya sering mengalami rasa sakit yang sangat parah," terang J.

Rasa sakit yang konstan tersebut disembunyikan dengan baik di balik penampilan sehari-hari yang tampak ceria.

"Ini adalah sesuatu yang tidak dilihat orang-orang di sekitar saya," sambungnya.

Hasil pemindaian sinar-X menunjukkan anatomi usus besar yang tampak halus tanpa kerutan akibat akumulasi feses selama bertahun-tahun.

"Usus besar saya sangat panjang dan memanjang hingga ke bagian atas," beber J.

Kondisi anatomi yang memanjang ini memunculkan opsi bedah total, namun prosedur intervensi medis tersebut memicu kekhawatiran mendalam pada diri pasien mengenai risiko pascaoperasi.

"Sepertinya satu-satunya cara untuk menyelesaikan ini adalah dengan mengangkat seluruh usus besar saya, tetapi saya sangat takut. Saya takut akan ada komplikasi," tambah dia.

Pikiran untuk menjalani operasi radikal ini sempat direspons dengan selingan rencana yang tidak biasa mengenai pemanfaatan organ tubuh yang akan diangkat.

"Saya sempat berpikir untuk menyimpan usus besar saya (setelah diangkat) untuk direbus. Akan sangat sia-sia jika tidak. Ukurannya sangat besar," ucapnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author