BPS Catat Defisit Perdagangan Indonesia dengan China Membengkak
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pelebaran defisit perdagangan nonmigas Indonesia dengan China hingga mencapai US$7,59 miliar selama periode Januari hingga April 2026, Selasa (2/6/2026). Nilai tersebut membengkak dari periode yang sama pada tahun 2025 yang tercatat sebesar US$6,28 miliar.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, China kini menjadi negara yang menyumbang defisit perdagangan nonmigas paling besar bagi Indonesia. Padahal, negara tirai bambu tersebut merupakan salah satu mitra dagang paling utama bagi tanah air.
Lonjakan defisit nonmigas ini dipicu oleh besarnya nilai impor produk manufaktur asal China yang mencapai US$30,79 miliar atau menyumbang 41,84 persen dari total impor nonmigas nasional. Di sisi lain, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China pada periode yang sama hanya menyentuh angka US$22,76 miliar.
"Jadi pada April 2026 Indonesia masih surplus sebesar US$0,09 miliar. Ini adalah surplus terendah selama 72 bulan terakhir dan defisit dengan Tiongkok pada Januari hingga April 2026 adalah sebesar US$7,59 miliar," kata Pudji Ismartini, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS.
Pihak BPS mencatat komoditas pendorong defisit tersebut meliputi mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) senilai US$6,81 miliar. Selanjutnya disusul oleh mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya (HS 85) sebesar US$6,54 miliar, serta komoditas plastik dan barang dari plastik (HS 39) senilai US$1,63 miliar.
Secara umum, total kinerja neraca perdagangan barang Indonesia sebenarnya masih membukukan surplus sebesar US$0,09 miliar pada April 2026. Catatan ini memperpanjang tren surplus Indonesia selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, meskipun angka April ini menyusut tajam jika dibandingkan surplus Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar.