BYD Dorong Penetrasi Kendaraan Listrik Melalui Teknologi Dual Mode
Adopsi kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) di Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan. Transformasi ini didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap mobilitas yang ramah lingkungan dan efisien.
Seperti diberitakan oleh Detik Oto, produsen otomotif BYD memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat elektrifikasi nasional. Sejak mengawali langkah di Indonesia pada 2024, sekitar 90.000 unit kendaraan BYD telah beroperasi di jalanan tanah air.
Pertumbuhan ini berjalan beriringan dengan lonjakan pangsa pasar kendaraan listrik nasional khususnya segmen kendaraan penumpang. Angka keterlibatan pasar melonjak dari kisaran 0,9% pada 2022 menjadi sekitar 20% pada kuartal pertama 2026.
Direktur PT BYD Motor Indonesia, Eagle Zhao menilai bahwa capaian tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan masa depan.
"Dan bagi kami, itu lebih dari sekadar angka penjualan. Itu menunjukkan kepercayaan mendalam yang diberikan oleh pelanggan dan keluarga Indonesia kepada BYD dan mobilitas hijau," ujar Eagle.
Hingga saat ini, BYD telah meluncurkan tujuh varian model dari dua merek berbeda untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Demi menjaga tren pertumbuhan, BYD tidak hanya mengandalkan battery electric vehicle (BEV) tetapi juga memperkuat penetrasi melalui teknologi BYD Dual Mode (DM).
Bagi pabrikan tersebut, integrasi antara teknologi EV dan DM menjadi solusi yang saling melengkapi dalam mempercepat peralihan transportasi berkelanjutan. Langkah ini sekaligus menjawab tantangan riil mobilitas masyarakat Indonesia.
Sektor transportasi di Indonesia saat ini menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga bahan bakar serta tingginya biaya operasional harian. Di sisi lain, kondisi geografis yang luas menuntut ketersediaan kendaraan yang fleksibel untuk jarak dekat maupun perjalanan jauh.
Menyikapi variasi kesiapan infrastruktur elektrifikasi di berbagai daerah, BYD memosisikan teknologi DM sebagai bagian dari rencana jangka panjang. Sistem ini dirancang untuk menghadirkan fleksibilitas berkendara berbasis listrik dalam berbagai situasi jalan.
Mengusung prinsip utama electric-first, teknologi BYD DM memprioritaskan motor listrik sebagai penggerak utama. Pendekatan tersebut diklaim mampu menghasilkan sensasi berkendara yang lebih halus, responsif, dan senyap.
Efisiensi yang dihasilkan sistem ini juga tergolong masif. Melalui generasi terbaru DM 5.0, efisiensi konsumsi bahan bakar mampu menyentuh angka 65 km/liter dengan jarak tempuh gabungan maksimal 1.800 kilometer berdasarkan uji coba rute 150 kilometer.
Guna mengakomodasi kebutuhan konsumen yang heterogen, BYD menghadirkan beberapa varian teknologi DM. Pilihan tersebut meliputi tipe DM-i untuk efisiensi harian, varian DM-p untuk performa dinamis, serta sistem DMO yang dikembangkan untuk medan jalan yang menantang.
Teknologi DM merupakan buah dari riset panjang BYD selama lebih dari dua dekade sejak generasi pertama meluncur pada 2008. Secara global, sistem penggerak ini telah diaplikasikan pada lebih dari 7 juta unit kendaraan di seluruh dunia.
Komitmen jangka panjang merek ini di dalam negeri juga diwujudkan melalui investasi fisik. BYD tengah merampungkan pembangunan fasilitas perakitan produksi di Subang, Jawa Barat, yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2026.