Analisis WWA Ungkap Perubahan Iklim Persempit Periode Aman Ibadah Haji
Periode aman bagi jutaan umat Muslim untuk menunaikan ibadah haji di Mekah, Arab Saudi, kini dinilai semakin menyempit. Perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia menyebabkan peningkatan risiko kelelahan akibat panas dan sengatan panas yang ekstrem, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Laporan tersebut dirilis oleh World Weather Attribution (WWA), sebuah inisiatif yang menganalisis peran perubahan iklim dalam peristiwa cuaca ekstrem. Ibadah haji sendiri mengikuti kalender lunar Islam yang bergeser lebih awal setiap tahun karena 10-15 hari lebih pendek dari kalender matahari Gregorian.
Secara historis, bulan Mei di Arab Saudi memiliki suhu yang lebih sejuk dibandingkan dengan bulan-bulan musim panas dari Juni hingga September. Namun, para peneliti dari WWA menemukan bahwa suhu Mei di Mekah saat ini sudah mencerminkan panas musim panas yang intens seperti pada tahun 1980-an.
Suhu rata-rata Mei di Mekah melonjak sekitar 3,5°C dibandingkan dengan iklim pra-industri, sebelum pelepasan gas rumah kaca meningkat pesat. Suhu puncak pada bulan Mei sekarang tercatat sekitar 2°C lebih panas.
"Perubahan iklim sekali lagi menunjukkan kepada kita bahwa ekspektasi yang didasarkan pada iklim yang sudah tidak ada lagi dapat diabaikan," kata salah satu penulis laporan, Clair Barnes, peneliti di Imperial College London, dalam pernyataannya, seperti dilansir dari Mongabay, Selasa (2/6/2026).
"Analisis kami menunjukkan dengan sangat jelas bahwa semakin sedikit waktu dalam setahun yang aman bagi jutaan umat Muslim yang ingin menunaikan ibadah haji."
Risiko kesehatan ini sangat tinggi bagi jemaah yang menghabiskan 20 hingga 30 jam di luar ruangan untuk berjalan jauh di tengah keramaian. Suhu maksimum yang melebihi 40°C pada Mei, yang dulu merupakan kejadian langka, kini diperkirakan terjadi setiap dua hingga tiga tahun sekali.
Laporan WWA menambahkan bahwa pada 2024, lebih dari 1.300 jemaah haji meninggal dunia selama ibadah haji yang berlangsung pada Juni, bertepatan dengan gelombang panas yang mencapai 51°C.
Otoritas Saudi sebenarnya telah menerapkan langkah-langkah mitigasi seperti menyediakan kipas pendingin dan stasiun pendingin untuk mengurangi dampak panas. Namun, laporan tersebut menyoroti bahwa fasilitas ini mungkin tidak dapat diakses oleh semua orang, terutama jemaah tanpa izin resmi.
"Langkah-langkah seperti kipas pendingin dan stasiun air sangat penting, tetapi kita harus menghadapi kenyataan bahwa jika suhu terus naik dengan laju ini, kesehatan dan nyawa jutaan orang selama ibadah haji mereka akan terancam," kata Emmanuel Raju, direktur Copenhagen Centre for Disaster Research, Universitas Kopenhagen di Denmark, dalam pernyataan.
Laporan tersebut juga mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa jika suhu global naik sebesar 3°C pada tahun 2100, sekitar 97% dari seluruh ibadah haji akan berlangsung selama periode panas ekstrem yang berbahaya.
Friederike Otto, profesor ilmu iklim di Imperial College London, mengatakan dalam pernyataannya bahwa meski industri bahan bakar fosil merupakan inti dari perekonomian Saudi, hal itu memaksa para jemaah “untuk menjalankan ritual haji dalam iklim yang sama sekali tidak cocok untuk itu.”