Dimensional Fund Kurangi Kepemilikan Saham BUMI di Tengah Koreksi

Share

Raksasa pengelola dana investasi Dimensional Fund Advisors LP dilaporkan memangkas kepemilikan saham mereka di PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sejak akhir tahun 2025. Dilansir dari Bloombergtechnoz, langkah pelepasan saham oleh manajer investasi asal Amerika Serikat ini berlangsung di tengah koreksi harga saham emiten yang dikelola oleh kongsi Grup Salim dan Bakrie tersebut.

Data terminal Bloomberg pada Selasa (2/6/2026) menunjukkan bahwa Dimensional Fund Advisors menjual 91,82 juta lembar saham BUMI pada kuartal IV-2025 dengan harga divestasi rata-rata Rp246,87 per saham. Aksi bersih-bersih portofolio ini berlanjut ke kuartal I-2026 dengan melepas sekitar 85,99 juta saham pada harga rata-rata Rp308,67 per saham.

Setelah melancarkan aksi jual bertahap tersebut, Dimensional Fund Advisors kini menyisakan kepemilikan sekitar 738,01 lembar saham BUMI. Posisi kepemilikan ini terpantau belum mengalami perubahan hingga awal perdagangan bulan ini.

Nilai valuasi dari sisa kepemilikan Dimensional Fund Advisors di BUMI saat ini berada di angka Rp124,73 miliar. Adapun harga perolehan rata-rata atau cost basis per share dari investasi yang dimulai sejak September 2022 ini adalah sebesar Rp143,43.

Melalui perhitungan tersebut, Dimensional Fund Advisors sebenarnya masih membukukan floating gain sekitar 18,88% ketika saham BUMI berada di level Rp170 per saham pada penutupan perdagangan sesi I, Selasa (2/6/2026). Meski begitu, performa saham BUMI tercatat telah merosot setengah dari harga puncaknya yang sempat menyentuh Rp464 per saham pada 5 Januari 2026.

Langkah pengurangan porsi kepemilikan saham BUMI juga diikuti oleh beberapa investor institusi kakap lain, seperti WisdomTree Inc dan Van Eck Associates Corp. Walau demikian, pergerakan Van Eck Associates Corp belakangan menunjukkan tanda balik arah.

WisdomTree tercatat melepas sekitar 10,15 juta saham BUMI dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Perusahaan manajemen aset berskala global tersebut kini menggenggam porsi sebesar 49,69 juta lembar saham BUMI.

Sementara itu, porsi kepemilikan Van Eck Associates Corp menyusut sekitar 9,46 juta lembar sejak awal tahun ini. Saat ini Van Eck Associates menguasai 37,91 juta lembar saham BUMI setelah mulai kembali melakukan akumulasi beli sejak April 2026.

Di lain pihak, Blackrock Inc justru mengambil strategi yang bertolak belakang dari para pesaingnya. Perusahaan yang dipimpin oleh Larry Fink ini menambah porsi investasi di BUMI dengan memborong sekitar 222,53 juta lembar saham selama dua bulan belakangan pada harga pembelian rata-rata Rp218 per saham.

Aksi akumulasi tersebut membuat Blackrock kini menguasai total 2,13 billion atau 2,13 tidur saham BUMI, yang setara dengan 0,57% dari seluruh saham beredar. Nilai investasi Blackrock ini mempunyai harga rata-rata perolehan Rp114,17 per saham dengan valuasi total mencapai Rp360,64 miIiar.

Pertumbuhan Kinerja Keuangan Kuartal I

Dari sisi fundamental keuangan, BUMI berhasil membukukan laba bersih senilai US$24,1 juta pada kuartal I-2026. Angka pencapaian laba ini tumbuh sebesar 35,2% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Peningkatan laba bersih sejalan dengan pendapatan perseroan yang ikut terkerek naik 19,7% menjadi US$417,7 juta. Berdasarkan keterangan resmi manajemen, kenaikan volume produksi beserta volume penjualan mampu menutupi dampak penurunan harga jual rata-rata batu bara sebesar 10%.

Perbaikan operasional pada strip ratio juga menjadi faktor pendorong margin usaha BUMI naik ke level 11,7% dari posisi tahun sebelumnya yang berada di kisaran 8%.

"Ekspansi margin ini ditopang oleh peningkatan volume produksi dan penjualan batu bara, serta perbaikan struktural pada strip ratio," dikutip dari siaran pers.

Secara operasional, BUMI memproduksi batu bara sebanyak 19,2 juta ton atau tumbuh 12% secara tahunan, sementara volume penjualan naik 14% menjadi 19,1 juta ton. Pihak manajemen menargetkan total produksi batu bara untuk sepanjang tahun penuh 2026 dapat menyentuh target 76 juta ton hingga 78 juta ton.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author