BYD dan DENZA Kuasai 40 Persen Pangsa Pasar Kendaraan Listrik
BYD dan DENZA memperkuat posisi sebagai pemimpin kendaraan elektrifikasi di Indonesia di tengah pasar otomotif yang dinamis. Dikutip dari Detik Oto, kedua merek ini mencatatkan penjualan lebih dari 19.200 unit hingga April 2026.
Capaian tersebut membuat BYD dan DENZA menguasai sekitar 40% pangsa pasar kendaraan listrik nasional. Angka ini menegaskan posisi penting BYD dalam transformasi elektrifikasi otomotif tanah air.
Sejak pertama kali hadir di Indonesia, sekitar 90.000 kendaraan BYD kini telah beroperasi sebagai solusi mobilitas harian. Pertumbuhan ini berjalan beriringan dengan peningkatan signifikan pasar kendaraan listrik nasional.
Sebelum kehadiran BYD pada 2022, pangsa pasar kendaraan listrik nasional hanya berkisar 0,9%. Angka ini kemudian melonjak hingga sekitar 20% pada kuartal pertama 2026, menandakan pergeseran dari fase early adoption ke pasar luas.
Karakteristik pasar Indonesia yang beragam menciptakan kebutuhan mobilitas yang semakin kompleks. Penggunaan kendaraan konvensional juga menghadapi tantangan seperti kenaikan harga bahan bakar dan biaya operasional yang tinggi.
Merespons kondisi tersebut, BYD menghadirkan teknologi Dual Mode (DM) sebagai solusi elektrifikasi yang relevan. Teknologi ini menggabungkan sistem kendaraan listrik (EV) dan hybrid dengan penggerak berbasis listrik.
"Melihat kembali perjalanan di 2024, BYD mengambil peran terdepan dalam mencatatkan sejarah baru perkembangan NEV di Indonesia lewat perluasan pasar kendaraan listrik dan peningkatan penerimaan masyarakat terhadap kendaraan energi baru secara lebih masif. Hari ini, kami membawa semangat yang sama melalui teknologi Dual Mode untuk kembali membuka babak baru pasar NEV di Indonesia," ujar President Director PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao.
Melalui teknologi DM, BYD menyediakan moda transportasi yang mampu menjawab kebutuhan harian tanpa kekhawatiran jarak tempuh. Kendaraan dapat beroperasi penuh sebagai kendaraan listrik untuk jarak pendek di area perkotaan.
Teknologi hybrid pada sistem DM akan aktif saat perjalanan jarak jauh untuk menjaga efisiensi energi. Berbeda dengan mobil konvensional, teknologi BYD DM memprioritaskan motor listrik sebagai penggerak utama.
Mesin bensin pada sistem ini hanya berfungsi sebagai pendukung untuk menghasilkan energi listrik. Sistem tersebut memberikan karakter berkendara yang responsif sekaligus mengoptimalkan efisiensi konsumsi bahan bakar.
Teknologi DM memiliki sejumlah keunggulan seperti sensasi berkendara halus, fleksibilitas sumber energi, dan konsumsi bahan bakar rendah. Sistem manajemen energi pintar di dalamnya bertugas mengoptimalkan performa kendaraan.
"Kami ingin menghadirkan solusi mobilitas yang dapat melengkapi pertumbuhan pasar NEV yang saat ini berkembang positif agar semakin meluas dan inklusif. Hal ini diwujudkan melalui teknologi DM yang lebih fleksibel, efisien, serta semakin mudah diakses oleh masyarakat termasuk di berbagai wilayah Indonesia, sehingga dapat menjangkau lebih banyak kebutuhan dan lapisan pasar di tanah air," sambung Eagle Zhao.
Sistem DM menawarkan efisiensi tinggi dengan konsumsi bahan bakar hingga 65 km/liter dan jarak tempuh lebih dari 1.800 km. Efisiensi termal mesinnya mencapai 46,06% dengan estimasi biaya penggunaan sekitar IDR 300/km.
Teknologi ini dilengkapi sistem penggerak cerdas yang menyesuaikan performa berdasarkan kebutuhan melalui tiga mode utama. Mode EV menggerakkan roda 100% dengan motor listrik untuk mobilitas harian nol emisi.
Mode HEV Series mengaktifkan mesin sebagai generator pengisi daya baterai saat daya berada di bawah batas State of Charge (SOC). Mode HEV Parallel mengombinasikan motor listrik dan mesin untuk menghasilkan performa tinggi saat kecepatan tinggi.
Secara global, teknologi DM telah digunakan oleh lebih dari 7 juta pengguna sejak pertama kali diperkenalkan pada 2008. Saat ini, BYD menghadirkan generasi terbaru DM 5.0 dengan peningkatan efisiensi energi dan integrasi sistem.