BPS Melaporkan Inflasi Mei 2026 Melonjak Hingga 3,08 Persen
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan laju inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 melonjak hingga 3,08 persen secara year-on-year (yoy). Angka tersebut mencatatkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,07 pada Mei 2025 menjadi 111,4 pada Mei 2026.
Realisasi inflasi yang dilansir dari Bloomberg Technoz pada Selasa (2/6/2026) ini menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi konsensus ekonom sebesar 2,94 persen. Laju inflasi tersebut juga mengalami percepatan dibanding realisasi pada April 2026 yang tercatat sebesar 2,42 persen.
Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi tahunan dengan mengalami inflasi sebesar 4,94 persen serta memberikan andil 1,43 persen.
"Komoditas dengan andil inflasi terbesar ialah ikan segar, beras, daging ayam ras, minyak goreng, cabai rawit, sigaret kretek mesin, dan cabai merah," kata Pudji dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).
Selain kelompok makanan, kelompok pengeluaran lain yang mendorong inflasi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi hingga 10,35 persen dengan andil sebesar 0,7 persen.
"Inflasi pada kelompok ini terutama terjadi pada kelompok emas dan perhiasan," tutur Pudji.
Kenaikan inflasi ini sejalan dengan analisis tim riset Bloomberg Technoz yang memperkirakan adanya akselerasi akibat dampak perang di Timur Tengah yang mulai berimbas pada perekonomian global dan nasional. Sebelum rilis resmi BPS, konsensus Bloomberg yang menghimpun pandangan 14 analis hingga Senin (1/6/2026) pagi memprediksi median inflasi Mei sebesar 2,94 persen.
Berdasarkan laporan Organisasi Pangan Dunia (FAO), indeks harga pangan global pada April berada di angka 130,7 atau naik 2,1 poin dari bulan sebelumnya. Catatan ini menjadi level tertinggi sejak Februari 2023 setelah mengalami kenaikan selama tiga bulan berturut-turut.
“Meski ada krisis di Selat Hormuz, harga serealia hanya naik secara moderat hingga sejauh ini. Namun harga minyak nabati yang mengalami kenaikan lebih tinggi, mengikuti kenaikan harga minyak mentah,” sebut Kepala Ekonom FAO Maximo Torero dalam keterangan tertulis.
Kondisi pasar global juga diperparah oleh laporan Bloomberg News yang menyatakan harga beras di Asia pada Mei mencatatkan kenaikan bulanan tertinggi dalam hampir 20 tahun terakhir. Beras putih Thailand sebagai acuan kawasan melonjak 20 persen dalam sebulan, yang menjadi kenaikan tertinggi sejak 2008.
Kenaikan harga pangan ini dipicu oleh lonjakan harga pupuk akibat penutupan Selat Hormuz yang meningkatkan biaya produksi petani. International Rice Research Institute mencatat harga pupuk nitrogen telah melonjak 40 hingga 50 persen sejak perang di Timur Tengah pecah pada akhir Februari lalu.