Dokter Sarankan Ibu Hamil Hindari Suntik Botox demi Keamanan Janin
Prosedur estetika suntik botox menjadi metode populer untuk menyamarkan garis halus serta kerutan pada wajah. Dikutip dari HaiBunda, perawatan ini menggunakan toksin dari bakteri Clostridium botulinum untuk melumpuhkan otot wajah penyebab kerutan secara temporer.
Meskipun umumnya aman di bawah pengawasan medis, keamanan tindakan ini bagi wanita yang sedang mengandung masih menjadi pertanyaan besar. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan toksin Botulinum ke dalam golongan obat kategori C.
"Artinya, toksin Botulinum belum terbukti berbahaya. Namun, juga belum terbukti aman jika digunakan perempuan yang sedang hamil," kata dokter bedah plastik James Zins, MD.
James Zins mengimbau para wanita untuk lebih waspada dan sebisa mungkin menjauhi prosedur ini selama masa kehamilan. Langkah tersebut penting diambil mengingat efek samping zat ini pada pertumbuhan janin belum dipetakan secara jelas.
"Every time we consume something or inject a substance into the skin, we need to consider the potential effects on healthy fetal development," ungkapnya.
"The challenge is that we don't always know the long-term effects. So, we cannot assume that it is safe during pregnancy."
Lembaga profesi seperti American Academy of Dermatology (AAD) dan American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) belum menerbitkan panduan resmi terkait hal ini. Kendati demikian, mayoritas dokter spesialis kulit sepakat melarang penggunaannya saat hamil.
"Penelitian terkini mengungkapkan bahwa botox tampaknya tidak masuk ke aliran darah, sehingga tidak diharapkan dapat meningkatkan kemungkinan cacat lahir," kata direktur Reproductive Toxicology Center, Tony Scialli, MD.
"Jika seorang perempuan menggunakan botox selama kehamilan dan memiliki bayi dengan masalah, mereka mungkin merasa bersalah. Tetapi tidak ada bukti bahwa botox menyebabkan cacat lahir."
Bagi wanita yang terlanjur menerima suntikan sebelum menyadari kehamilannya, para pakar meminta agar tidak perlu memicu kecemasan berlebih. Risiko kemunculan masalah kesehatan akibat kondisi tersebut dinilai sangat rendah.
"Kami menggunakan dosis toksin Botulinum yang sangat kecil untuk tujuan estetika (kosmetik), terutama dalam kasus 'baby Botox' (teknik perawatan dengan dosis mikro)," ungkap Zins.
"Toksin ini tidak diserap ke dalam aliran darah atau hanya diserap secara lokal, di area tempat disuntikkan," sambungnya.
Riset tahun 2023 dalam Neurology Journal yang mengamati hampir 400 kehamilan dengan paparan toksin ini menunjukkan tingkat komplikasi yang serupa dengan populasi umum. Namun, ukuran sampel yang kecil membuat hasil studi belum bisa dijadikan acuan mutlak.
Sebagai solusi alternatif yang aman selama masa kehamilan, ibu hamil disarankan beralih ke penggunaan tabir surya dan pelembap secara rutin. Selain itu, pemakaian vitamin C topikal dalam batas wajar dapat menjadi opsi efektif untuk merangsang kolagen dan menjaga kulit tetap cerah.