Sanae Takaichi Desak Iran Jamin Keselamatan Pelayaran Selat Hormuz
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mendesak jaminan keselamatan bagi seluruh kapal pelayaran yang melintasi Selat Hormuz tanpa memandang negara asalnya dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Senin (1/6).
Permintaan tersebut disampaikan menyusul kekhawatiran Jepang terhadap stabilitas jalur pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
Dialog selama 15 menit tersebut menjadi komunikasi ke tiga antar kedua pemimpin negara di tengah situasi kawasan yang masih tegang.
"Saya kembali mendesak dengan sangat agar seluruh kapal—termasuk kapal milik Jepang dan negara-negara Asia lainnya—diizinkan melewati Selat Hormuz secara bebas dan aman sesegera mungkin," ujar Sanae Takaichi, Perdana Menteri Jepang.
Takaichi menyampaikan pernyataan tersebut kepada awak media setelah panggilan telepon darurat selesai dilakukan.
"Saya menyampaikan harapan agar Iran terus menunjukkan fleksibilitas maksimal demi tercapainya kesepakatan secepat mungkin," tambah Sanae Takaichi, Perdana Menteri Jepang.
Pemerintah Jepang menekankan bahwa penyelesaian ketegangan di wilayah tersebut harus diprioritaskan melalui jalan negosiasi damai demi menghindari dampak ekonomi yang lebih luas.
Di sisi lain, respons positif sempat diberikan oleh pihak Teheran yang berkomitmen membantu mempermudah lalu lintas pelayaran kapal-kapal niaga asal Jepang.
"lebih mudah dan tanpa masalah." kata Masoud Pezeshkian, Presiden Iran.
Pernyataan tersebut diunggah oleh pihak Iran melalui media sosial resmi mereka pasca-pertemuan jarak jauh bergulir.
Sementara itu, negosiasi antara pihak Amerika Serikat dan Iran dilaporkan sedang berjalan krusial untuk memulihkan stabilitas koridor perdagangan laut global tersebut.
"Kami akan terus mendukung upaya diplomatik negara-negara mediator dan melanjutkan diplomasi kami sendiri secara konsisten semaksimal mungkin, bekerja sama erat dengan negara-negara lain untuk mendorong tercapainya kesepakatan antara Iran dan AS secepatnya," kata Minoru Kihara, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang.
Kihara menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers rutin yang digelar pada Selasa (2/6) pagi waktu setempat.
Pemerintah Jepang kini bersiap mengalokasikan dana cadangan darurat sebesar US$3,2 miliar guna mengatasi pembengkakan biaya energi domestik akibat terhambatnya arus impor minyak.