Turis India Ditagih Denda Lalu Lintas Swiss Rp18 Juta
Seorang turis asal India mendapatkan tagihan denda pelanggaran lalu lintas dari pemerintah Swiss sebesar Rp18,3 juta setelah hampir setahun menyelesaikan masa liburannya di negara tersebut, dilansir dari Detik Travel pada Selasa (2/6/2026).
Wisatawan perempuan bernama Poan Sapdi tersebut membagikan pengalaman tidak menyenangkan itu melalui sebuah unggahan di media sosial X yang kemudian viral dan disaksikan oleh 1,3 juta penonton.
Melalui cuitannya yang dikutip NDTV, Poan Sapdi berupaya mencari solusi dari warganet untuk memahami prosedur pengajuan banding guna mengurangi atau membatalkan denda yang bernilai hampir Rs 1 lakh tersebut.
"Apakah ada yang pernah menerima denda pelanggaran lalu lintas dari Swiss beberapa bulan setelah kembali dari liburan?" kata Poan.
Kasus ini memicu diskusi hangat di kalangan wisatawan India mengenai pentingnya memahami peraturan lalu lintas setempat serta memeriksa perjanjian sewa kendaraan secara cermat saat berada di luar negeri.
"Kami baru saja menerima surat tilang hampir Rs 1 lakh (sekitar Rp 18,3 juta), hampir setahun setelah liburan kami. Kami tengah mencari tahu apakah ada cara untuk mengajukan banding, mengurangi, atau membatalkan denda tersebut," dia menambahkan.
Poan sangat mengharapkan respons dari pengguna media sosial lain yang mungkin pernah menghadapi situasi serupa atau memahami proses hukum terkait denda internasional tersebut.
"Saya ingin mendengar dari siapa pun yang pernah berurusan dengan hal serupa atau mengetahui prosesnya. Bantuan apa pun akan sangat dihargai," ujar dia.
Sejumlah warganet memberikan peringatan bahwa pengajuan keberatan dari luar negeri justru berisiko memperberat sanksi, sehingga pembayaran segera disarankan demi menghindari masalah visa Schengen di masa depan.
"Tidak mungkin denda itu dihapus. Selain itu, karena Anda baru mengajukan banding setelah sekian waktu, pihak berwenang mungkin akan menjadikannya contoh agar orang lain tidak melakukan hal yang sama," ujar salah satu warganet.
Beberapa komentar lain juga menegaskan bahwa otoritas Swiss dikenal sangat ketat dan keterlambatan pembayaran dapat memicu akumulasi bunga yang membuat nominal denda semakin membengkak.
"Permintaan penghapusan denda dari luar negeri kemungkinan besar akan mengakibatkan peningkatan denda. Lebih baik bayar secepatnya agar tidak masuk daftar hitam untuk visa Schengen berikutnya," warganet lain menimpali.
Merespons berbagai saran tersebut, Poan menyatakan tetap berencana melakukan pembayaran namun ingin mengajukan keberatan khusus terkait biaya keterlambatan karena surat pemberitahuan tiba sangat terlambat.
"Kami akan membayarnya, tentu saja, tetapi disebutkan dalam surat bahwa kami dapat mengajukan keberatan atas denda tersebut. Kami ingin mengajukan keberatan atas biaya keterlambatan karena kami menerima pemberitahuan tersebut sangat terlambat," ujar Poan.
Pengguna media sosial lain turut membandingkan pengalaman mereka saat menerima denda dari negara Eropa lain, serta menyarankan opsi pengajuan pembayaran secara bertahap kepada otoritas Swiss.
"Pernah dapat denda dari Jerman setelah perjalanan sebesar 10.000. Sudah dibayar. Tapi 1 lakh itu gila," kata warganet lain.
Hingga saat ini, unggahan tersebut terus menjadi sorotan dan pelajaran bagi para pelancong internasional mengenai konsekuensi hukum pelanggaran lalu lintas di luar Swiss.
"Denda lalu lintas Swiss sangat besar. Bayar saja, kalau tidak mereka akan terus menambahkan bunga. Anda juga bisa meminta rencana pembayaran, mungkin Anda bisa membayarnya secara bertahap, sedikit demi sedikit. Saya tidak yakin apakah Anda akan kembali ke sana," kata yang lain.