Kurs Rupiah Melemah Nyaris Sentuh Rp17.900 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami tekanan besar pada awal perdagangan perdana bulan Juni 2026. Mata uang Indonesia bergerak fluktuatif hingga mendekati level psikologis baru.
Dikutip dari Bloomberg Technoz, rupiah sebenarnya memulai perdagangan dengan apresiasi tipis sebesar 0,02 persen ke posisi Rp17.865 per dolar AS. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama di pasar.
Hanya berselang beberapa menit, tepatnya pada pukul 09:07 WIB, pergerakan mata uang Garuda berbalik arah. Rupiah tercatat melemah 0,03 persen hingga menyentuh angka Rp17.880 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang nasional terus berlanjut seiring berjalannya waktu perdagangan. Pada pukul 09:22 WIB, posisi rupiah semakin merosot ke level Rp17.894 per dolar AS, hanya sejengkal sebelum menyentuh Rp17.900 per dolar AS.
Kondisi lesu ini tidak hanya dialami Indonesia, karena hampir seluruh mata uang di kawasan Asia juga berada di zona merah. Won Korea Selatan mencatatkan koreksi paling dalam setelah tergerus hingga 0,26 persen.
Ketidakpastian dalam proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama rontoknya mata uang di Asia. Harapan publik terhadap meredanya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menguap akibat munculnya sinyal yang bertolak belakang.
Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan pernyataan optimistis mengenai potensi kesepakatan. Trump menyebutkan bahwa memorandum kesepahaman dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz berpeluang tercapai dalam pekan depan.
"Kesepakatan berpotensi tercapai dalam pekan depan," kata Trump.
Meskipun demikian, Trump tetap memberikan catatan penting terkait proses tersebut. Ia menegaskan bahwa masih terdapat sejumlah poin krusial yang harus diselesaikan oleh kedua belah pihak sebelum kesepakatan final dirampungkan.
"Masih ada beberapa poin yang perlu diselesaikan sebelum kesepakatan dapat dirampungkan," ujar Trump.
Sinyal kontraproduktif justru datang dari pihak Teheran. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, mengabarkan bahwa Iran bersama kelompok sekutu regionalnya justru sedang mengkaji langkah untuk menutup total Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Situasi yang tidak menentu ini memicu kekhawatiran pelaku pasar global akan risiko kelanjutan gangguan pasokan energi. Dampaknya, investor kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam kalkulasi harga aset keuangan serta perdagangan internasional.
Bagi Indonesia, tekanan yang datang bersifat ganda karena adanya sentimen negatif dari dalam negeri yang belum mereda. Pelaku pasar menyoroti masalah inkonsistensi kebijakan ekonomi domestik saat ini.
Munculnya berbagai sinyal yang kurang memberikan kepastian terhadap arah pengelolaan ekonomi ke depan membuat investor bersikap waspada. Di tengah gejolak global, pasar cenderung meminta premi lebih tinggi untuk negara dengan risiko kebijakan seperti Indonesia.