Negosiasi Damai AS dan Iran Alot, Kontak Senjata Masih Terjadi
Ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Aksi saling serang antara kedua belah pihak terus terjadi di tengah negosiasi damai yang belum menemui titik temu.
Konflik bersenjata ini pecah sejak 28 Februari 2026 yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel ke infrastruktur militer Iran. Peristiwa tersebut mengakibatkan meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dilansir dari Detikcom, upaya penyelesaian konflik sebenarnya telah diupayakan lewat perundingan tingkat tinggi di Islamabad, Pakistan, sejak Sabtu (11/4). Meski rangkaian gencatan senjata sempat diberlakukan, kesepakatan bersama belum berhasil dicapai hingga saat ini.
Proses diplomasi yang berlangsung selama lebih dari satu bulan ini berjalan dengan tensi tinggi. Kedua belah pihak tetap teguh pada tawaran masing-masing, yang diwarnai dengan saling ancam hingga kontak senjata.
Perunding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa pihaknya tidak memercayai janji-janji Washington. Teheran menegaskan tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun sebelum hak-hak rakyat Iran terpenuhi.
"Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah ditegakkan," tegas Ghalibaf dalam sebuah video yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, seperti dilansir AFP, Senin (1/6/2026).
Ghalibaf yang juga menjabat Ketua Parlemen Iran menambahkan bahwa para negosiator Iran tidak memercayai kata-kata maupun janji musuh.
Pernyataan tersebut muncul setelah media AS seperti New York Times dan Axios melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump mengirimkan revisi kerangka kerja perdamaian pada Sabtu (30/5). Draf baru tersebut disebut-sebut berisi persyaratan yang lebih ketat bagi Iran.
Teheran menuntut pencabutan sanksi ekonomi dan pelepasan aset yang dibekukan di bank luar negeri senilai US$ 12 miliar (Rp 214 triliun). Pemulihan aset tersebut menjadi syarat utama sebelum Iran bersedia membahas substansi program nuklirnya.
Di sisi lain, Donald Trump menegaskan bahwa prioritas utama AS adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Selain itu, AS menuntut pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang ditutup Iran sejak akhir Februari.
Melalui akun media sosial Truth Social pada Minggu (31/5), Trump menyatakan bahwa kesepakatan yang diusulkan sudah memuat aturan yang sangat jelas mengenai pelarangan senjata nuklir bagi Iran. Pernyataan ini sekaligus membantah laporan CNN yang menyebut kerangka kerja tersebut kurang mengakomodasi isu nuklir.
"Kemudian dilanjutkan, dengan sangat detail dan panjang lebar, untuk membahas berbagai aspek-aspek lainnya dari nuklir. Bahkan, itulah sebagian besar isi perjanjian tersebut," sebut Trump dalam pernyataannya.
Trump juga melontarkan kritik kepada sejumlah media yang dinilai telah salah mengartikan isi draf perjanjian perdamaian tersebut.
Kontak Senjata Terus Berlanjut
Di tengah proses diplomasi, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan serangan terhadap lokasi radar dan pusat komando drone Iran di Goruk dan Pulau Qeshm akhir pekan lalu. Washington mengklaim tindakan tersebut sebagai operasi pertahanan diri.
"Komando Pusat AS melancarkan serangan pertahanan diri terhadap lokasi radar dan komando serta kendali drone Iran di Goruk, Iran, dan Pulau Qeshm pada akhir pekan ini," kata CENTCOM dalam pernyataannya via media sosial X pada Minggu (31/5) malam.
Menurut CENTCOM, operasi udara ini merupakan respons cepat setelah pasukan Iran menembak jatuh drone MQ-1 milik AS di atas perairan internasional. Serangan terukur pada Sabtu (30/5) dan Minggu (31/5) tersebut menghancurkan sistem pertahanan udara dan stasiun kendali darat Iran tanpa adanya korban dari personel militer AS.
"Serangan yang terukur dan disengaja ini terjadi pada Sabtu (30/5) dan Minggu (31/5) sebagai respon atas tindakan agresif Iran yang mencakup menembak jatuh drone MQ-1 AS yang beroperasi di atas perairan internasional," sebut CENTCOM.
Pihak AS menyatakan tetap berkomitmen melindungi aset serta kepentingan mereka di kawasan tersebut dari tindakan agresif selama masa gencatan senjata.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan balasan pada Senin (1/6) pagi dengan menargetkan pangkalan udara AS yang digunakan untuk menyerang wilayah mereka. IRGC mengklaim seluruh target operasi telah dihancurkan.
Meskipun IRGC tidak merinci lokasi pangkalan tersebut dalam siaran televisi IRIB, militer Kuwait pada saat yang sama mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat serangan rudal dan drone. AS diketahui mengoperasikan beberapa pangkalan militer di wilayah Teluk, termasuk di Kuwait.
Berdasarkan laporan Mehr News Agency, Angkatan Udara IRGC mengincar pangkalan yang menjadi lokasi peluncuran operasi AS terhadap fasilitas komunikasi di Pulau Sirik, Provinsi Hormozgan. Wilayah Pulau Sirik yang berada di dekat Selat Hormuz menjadi salah satu area yang terdampak langsung oleh perang sejak akhir Februari lalu.