Ibu Hamil Sering Mengompol Malam Hari, Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya

Share

Sebagian ibu hamil kerap terbangun di malam hari dan mendapati celana atau tempat tidur dalam kondisi basah. Keadaan ini sering kali memicu kepanikan karena sulitnya membedakan antara urine dengan air ketuban atau cairan tubuh lainnya.

Dilansir dari HaiBunda, peristiwa mengompol saat tidur merupakan hal yang lumrah dialami selama masa kehamilan. Fenomena ini umumnya semakin sering dijumpai ketika usia kandungan terus bertambah besar.

Masalah kontrol kandung kemih ini biasanya mulai muncul saat kehamilan memasuki trimester kedua dan ketiga. Pergeseran hormon serta perubahan fisik yang drastis menjadi faktor utama yang membuat saluran kemih sulit dikendalikan sewaktu beristirahat.

Rahim yang terus membesar demi mengakomodasi pertumbuhan janin akan memberikan tekanan langsung pada kandung kemih. Desakan tersebut memperkecil kapasitas tampung urine, sehingga cairan dapat merembes keluar tanpa disadari saat tubuh terlelap, batuk, atau bersin.

Beban tambahan selama masa mengandung juga melemahkan otot dasar panggul yang berfungsi menyokong kandung kemih, rahim, dan usus. Berdasarkan studi dalam International Urogynecology Journal, kondisi inkontinensia urine ini marak terjadi di trimester akhir akibat lonjakan tekanan pada area panggul.

Faktor hormonal turut andil melalui peningkatan hormon progesteron yang merelaksasi otot-otot tubuh, termasuk area saluran kemih. Di samping itu, aktivitas ginjal wanita hamil yang lebih aktif ikut memicu lonjakan produksi urine harian.

Tekanan mendadak dari gerakan atau tendangan aktif janin di malam hari juga bisa menstimulasi keluarnya urine. Namun, jika kebocoran disertai rasa perih saat berkemih, bau menyengat, atau demam, hal itu bisa menandakan Infeksi Saluran Kemih (ISK).

Menurut riset American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), fluktuasi hormon membuat ibu hamil memang lebih rentan terserang ISK. Penting bagi wanita hamil untuk memahami perbedaan karakteristik antara rembesan urine dan air ketuban.

Air pipis umumnya memiliki warna kekuningan dengan aroma khas yang tajam, keluar dalam volume sedikit, serta masih bisa ditahan sebagian. Sebaliknya, air ketuban cenderung jernih, tidak berbau menyengat, keluar secara terus-menerus, dan tidak dapat dibendung.

Cara Mengurangi Risiko Mengompol

Meskipun tergolong normal, gangguan ini dapat menurunkan kualitas tidur dan memicu rasa tidak nyaman. Terdapat sejumlah langkah praktis yang dapat diterapkan demi meminimalisasi risiko kebocoran urine di malam hari.

Mengosongkan kandung kemih secara total tepat sebelum pergi tidur dapat mencegah penumpukan cairan yang berlebihan. Langkah sederhana ini efektif menekan potensi mengompol di tengah malam.

Pengaturan volume minum juga perlu diperhatikan dengan mengurangi asupan cairan yang masif sekitar 1 hingga 2 jam sebelum tidur. Konsumsi air yang melimpah sebaiknya difokuskan pada siang hari agar tubuh tetap terhidrasi.

Ibu hamil disarankan menghindari konsumsi minuman berkafein seperti kopi, teh, cokelat, maupun soda menjelang malam. Jurnal International Urogynecology Journal menyebutkan bahwa kafein dapat memperparah gejala penurunan kontrol saluran kemih.

Melatih kekuatan otot dasar panggul melalui senam Kegel secara rutin sangat dianjurkan untuk meningkatkan kendali terhadap pembuangan urine. Latihan dilakukan dengan mengencangkan otot panggul selama 5 hingga 10 detik, lalu melepaskannya perlahan dalam beberapa repetisi.

Memilih posisi tidur miring ke kiri dapat membantu melancarkan sirkulasi darah sekaligus meminimalkan tekanan pada organ dalam. Penggunaan bantal penyangga tambahan juga dapat mendistribusikan beban tubuh secara lebih merata.

Menjaga berat badan agar tetap berada pada grafik kenaikan yang ideal sesuai panduan dokter dapat mengurangi tekanan ekstra pada panggul. Penggunaan alas tidur kedap air atau pembalut khusus juga dapat membantu mengurangi kecemasan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author