DPRD DKI Jakarta Desak Evaluasi Keamanan Taman Margasatwa Ragunan
Manajemen Taman Margasatwa Ragunan mendapat desakan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta untuk mengevaluasi total sistem keamanan di area wisata tersebut. Langkah ini diambil menyusul adanya insiden seorang anak yang dilaporkan terjatuh ke area kandang gajah baru-baru ini.
Peristiwa jatuhnya anak berpakaian merah ke parit kandang gajah tersebut terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial pada Minggu (31/5/2026). Dilansir dari Detikcom, sejumlah orang dewasa langsung melewati pembatas untuk menolong dan mengangkat anak tersebut kembali ke area pengunjung.
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, menyatakan keprihatinan yang mendalam dan meminta keselamatan pengunjung dijadikan prioritas utama.
"Saya sangat prihatin atas terjadinya insiden ini. Keselamatan dan kondisi kesehatan anak yang bersangkutan harus menjadi prioritas utama," ujar Hardiyanto Kenneth, Anggota DPRD DKI Jakarta, Senin (1/6/2026).
Pria yang akrab disapa Bang Kent tersebut menilai kejadian ini merupakan momentum penting bagi pengelola fasilitas publik untuk memperkuat standar keselamatan. Manajemen Ragunan dituntut melakukan investigasi internal yang transparan terkait kronologi dan celah pengamanan yang ada.
"Kami meminta evaluasi dilakukan secara objektif dan menyeluruh. Fokusnya bukan mencari pihak yang harus disalahkan, melainkan menemukan akar persoalan dan memastikan langkah-langkah perbaikan dapat segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang kembali," kata Hardiyanto Kenneth, Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta.
Pemeriksaan menyeluruh disarankan mencakup seluruh aspek fisik seperti pagar pembatas, jalur pengunjung, hingga titik observasi satwa berisiko tinggi.
"Apabila ditemukan adanya pagar yang tidak memenuhi standar keamanan, celah pengamanan, atau titik yang memungkinkan pengunjung mendekati area satwa secara berbahaya, maka perbaikan harus segera dilakukan tanpa menunggu terjadinya insiden berikutnya," tegas Hardiyanto Kenneth, Ketua IKAL PPRA Angkatan LXII Lemhannas RI.
Selain infrastruktur fisik, penguatan pengawasan melalui patroli petugas juga dinilai krusial, terutama saat terjadi lonjakan pengunjung pada hari libur.
"Kehadiran petugas yang aktif melakukan patroli dan memberikan imbauan secara langsung kepada pengunjung merupakan langkah preventif yang sangat penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan," ujar Hardiyanto Kenneth.
Kenneth turut menyoroti perilaku sebagian masyarakat yang kerap mengabaikan keselamatan demi membuat konten di media sosial.
"Terlepas dari apa pun motif yang melatarbelakangi kejadian tersebut, keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama. Di era media sosial saat ini, masyarakat perlu semakin bijak dalam membuat maupun mengejar konten. Jangan sampai keinginan mendapatkan foto, video, atau konten yang menarik justru mengabaikan aspek keselamatan, terlebih jika melibatkan anak-anak. Tidak ada konten yang sebanding dengan risiko keselamatan jiwa," tegas Hardiyanto Kenneth.
Ia mengingatkan bahwa seluruh pagar pengaman dan rambu di kawasan konservasi dipasang untuk melindungi manusia sekaligus satwa.
"Anak-anak sering kali belum memahami risiko yang ada sehingga pendampingan orang dewasa menjadi sangat penting. Keamanan di ruang publik merupakan tanggung jawab bersama. Orang tua dan pendamping memiliki peran yang penting dalam memastikan anak-anak tetap berada dalam pengawasan," katanya.
Pengelola tetap diwajibkan membangun sistem berlapis serta meningkatkan sosialisasi aturan keselamatan demi memitigasi situasi tidak terduga.
"Jika memang terdapat kecenderungan pengunjung mendekati area terlarang demi mengambil foto atau membuat konten media sosial, maka perlu ada langkah antisipatif yang lebih tegas, baik melalui penambahan petugas, penguatan pagar pengaman, pemasangan kamera pengawas, maupun sosialisasi yang lebih masif," ujar Hardiyanto Kenneth.
Peningkatan fasilitas pengawasan seperti CCTV di titik rawan dan pelaksanaan audit keselamatan berkala menjadi rekomendasi penutup untuk meminimalkan risiko di masa mendatang.
"Kejadian ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak. Budaya mengejar konten tidak boleh mengalahkan kesadaran akan keselamatan. Tempat wisata adalah ruang rekreasi dan edukasi, bukan lokasi untuk mengambil risiko yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain," tutup Hardiyanto Kenneth.