Orang Tua Perlu Memahami Bahasa Cinta untuk Mencegah Masalah Emosional Anak

Share

Pemenuhan kebutuhan emosional melalui pemahaman bahasa cinta atau love language dinilai sangat krusial dalam mendukung tumbuh kembang serta mencegah gangguan kesehatan mental dan perilaku pada anak.

Hal tersebut disampaikan oleh Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga Irma Gustiana Andriani dalam acara talkshow yang digelar PT Frisian Flag Indonesia di Tangerang Selatan pada Minggu (31/5/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Health.

"Ketika kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi, dampaknya akan terlihat pada kondisi emosional dan perilakunya. Anak bisa menjadi lebih mudah cemas, merasa tidak berharga, kurang percaya diri, tidak memiliki motivasi, bahkan prestasi belajarnya dapat ikut terpengaruh," ujar Irma Gustiana Andriani, Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga.

Irma mengibaratkan bentuk kasih sayang yang tepat sebagai pengisi energi emosional anak setelah mereka beraktivitas di sekolah maupun lingkungan sosialnya sehari-hari.

"Bahasa cinta itu seperti bensin untuk mengisi tangki cinta. Ketika tangki cinta terisi, anak memiliki energi emosional yang cukup. Sebaliknya, jika tangkinya kosong, anak akan lebih mudah mengalami masalah emosional," jelas Irma Gustiana Andriani, Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga.

Menurutnya, terdapat lima bentuk bahasa cinta yang umum meliputi kata-kata afirmasi, sentuhan fisik, waktu berkualitas, tindakan melayani, dan pemberian hadiah.

"Kalau kita mengetahui bahasa cinta pasangan dan anak, kita bisa memberikan bentuk kasih sayang yang tepat. Hal ini akan membantu menciptakan dinamika keluarga yang lebih sehat secara sosial, emosional, dan perilaku," kata Irma Gustiana Andriani, Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga.

Ia mengingatkan agar orang tua tidak memaksakan cara pemberian kasih sayang yang hanya disukai oleh diri mereka sendiri karena setiap anggota keluarga bisa memiliki kebutuhan yang berbeda.

"Kita perlu mengenal bahasa cinta diri sendiri, pasangan, dan anak. Jangan sampai kita memberikan kasih sayang dengan cara yang kita sukai, padahal anak membutuhkannya dalam bentuk yang berbeda," jelas Irma Gustiana Andriani, Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga.

Pandangan mengenai pentingnya aspek emosional ini juga didukung oleh pihak penyelenggara acara yang menekankan keseimbangan antara nutrisi fisik dan mental.

"Melalui semangat 'Nourishing Indonesia', kami ingin terus mendampingi keluarga Indonesia. Tidak hanya berbicara soal nutrisi, tetapi juga tentang membangun kebiasaan baik, memberikan semangat, serta menghadirkan dukungan emosional dalam keluarga," ujar Kanya Ramyacitta, Head of Masterbrand & Future Innovation Frisian Flag Indonesia.

Kanya mencontohkan bahwa aktivitas sederhana di dalam rumah tangga seperti saling menyajikan minuman bernutrisi dapat menjadi medium apresiasi yang menguatkan hubungan antaranggota keluarga.

"Ibu memberikan susu ke anak, anak memberikan susu ke ibu, gitu ya, sebagai bentuk bahwa apresiasi menemani supaya di keluarga itu rasanya tidak sendirian. Ada rasa semangat, walaupun apapun tantangannya, di hari yang berat," jelas Kanya Ramyacitta, Head of Masterbrand & Future Innovation Frisian Flag Indonesia.

Menurutnya, dukungan emosional dan gizi yang baik secara bersamaan akan membuat beban harian keluarga terasa lebih ringan.

"Tapi rasanya kalau kita mendapatkan susu yang penuh nutrisi, tentunya jadi ada rasa yang lebih nikmat. Rasanya itu langkah lebih ringan, bahwa kita bisa mengatasi semua asal bersama-sama dengan keluarga. Sehingga keluarga bisa mendukung dengan baik juga," sambung Kanya Ramyacitta, Head of Masterbrand & Future Innovation Frisian Flag Indonesia.

Sementara itu, dari sudut pandang praktis orang tua, pengamatan langsung terhadap aktivitas harian anak menjadi kunci utama untuk memetakan potensi dan keinginan mereka.

"Saya berusaha memperlakukan anak seperti yang dulu saya harapkan ketika masih kecil. Dengan mengamati kesehariannya, kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya disukai dan dibutuhkan oleh anak," ujar Ochi Febriana, Ibu dari Influencer Shabira Alula (Lala).

Ochi menerapkan metode ini dengan memfasilitasi anak untuk mencoba berbagai bidang baru yang diminati, mulai dari seni musik hingga pengenalan teknologi sejak dini.

"Contohnya, Lala ini kan suka sekali musik, dia suka bernyanyi. Dia ternyata tertarik dengan alat musik, saya mencoba mendampingi lala, 'ayo kita coba yuk, mau piano boleh'," cerita Ochi Febriana, Ibu dari Influencer Shabira Alula (Lala).

Ia menegaskan pentingnya bimbingan orang tua dalam mengarahkan fasilitas yang diberikan agar minat anak dapat terarah dengan baik.

"Kalau misal bermain game, yuk kita coba coding. Jadi berusaha untuk memberi jalan, membimbing, memberi fasilitas kepada anak. Supaya anak itu, kita bisa terpetakan gitu, apa sih yang diinginkan anak," imbuh Ochi Febriana, Ibu dari Influencer Shabira Alula (Lala).

Bagi Ochi, kehadiran fisik dan emosional orang tua merupakan bentuk sistem pendukung yang krusial dalam menghadapi proses tumbuh kembang anak.

"Menjadi orang tua itu tidak mudah. Karena itu, kita membutuhkan support system," ujar Ochi Febriana, Ibu dari Influencer Shabira Alula (Lala).

Rangkaian acara edukasi keluarga ini juga dilaksanakan untuk memperingati Hari Susu Sedunia dan dijadwalkan akan berlanjut ke Tunjungan Plaza, Surabaya pada 19-21 Juni 2026.

"Ketika merasa ditemani, sesuatu yang berat akan terasa lebih ringan. Begitu juga yang ingin dirasakan anak dalam proses tumbuh kembangnya," tambah Ochi Febriana, Ibu dari Influencer Shabira Alula (Lala).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author