Pelemahan Rupiah Menembus Rp 17.600 Per Dolar AS Bebani Biaya Hidup

Share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami depresiasi terdalam sepanjang sejarah modern Indonesia hingga menembus level Rp 17.600 dalam sepekan terakhir. Rekor kemerosotan mata uang Garuda ini dilaporkan mulai memicu lonjakan harga barang impor dan membebani biaya hidup harian masyarakat.

Dampak penurunan nilai mata uang ini dilaporkan oleh Kontan telah menyasar berbagai sektor kehidupan publik kelas menengah secara nyata. Selain memicu kenaikan harga pangan, gejolak kurs ini juga menaikkan harga komoditas impor, biaya hobi, rencana keuangan, hingga memaksa penundaan renovasi rumah akibat lonjakan harga bahan baku bangunan.

Kondisi fundamental makroekonomi dalam negeri saat ini dinilai masih cukup tangguh oleh otoritas perbankan, sehingga situasi sekarang dianggap berbeda dengan krisis moneter 1998. Cadangan devisa nasional yang menyentuh angka US$ 146,2 miliar per April 2026 juga diproyeksikan mampu menekan risiko gagal bayar utang pemerintah dalam jangka pendek.

Struktur pergerakan nilai tukar saat ini dipandang memiliki bantalan yang lebih aman berkat indikator makro yang terjaga. Kondisi tersebut disampaikan oleh Chief Economist PT Bank Permata Tbk (Permata Bank) Josua Pardese yang mengamati situasi penguatan dolar AS tersebut.

"Sekarang, pondasi makro Indonesia masih relatif lebih kuat bila dibandingkan dengan masa tersebut. Ekonomi masih tumbuh, inflasi masih terkendali, sistem keuangan masih terjaga, dan cadangan devisa masih cukup besar," urai Josua kepada Kontan belum lama ini.

Kendati demikian, Josua Pardese mengingatkan bahwa kemerosotan nilai tukar yang terjadi terlalu cepat tetap harus diwaspadai karena berpotensi merusak sentimen pasar. Kejatuhan kurs yang tidak terkendali ini dikhawatirkan dapat merontokkan kepercayaan pelaku ekonomi serta mengikis daya beli masyarakat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author