Aspermigas Soroti Target Lifting Minyak 2027 yang Dinilai Stagnan

Share

Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) menilai target lifting minyak tahun 2027 dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) sebesar 602.000 hingga 615.000 barel per hari (bph) cenderung stagnan, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Minggu (31/5/2026).

Target tersebut dinilai hampir tidak mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan target tahun ini yang dipatok sebesar 610.000 bph. Kondisi ini dipengaruhi oleh lonjakan realisasi lifting pada tahun 2025 yang dipicu oleh perubahan definisi operasional pencatatan produksi.

Ketua Komite Investasi Aspermigas Moshe Rizal menjelaskan bahwa kenaikan performa lifting belakangan ini hanya terjadi di atas kertas akibat dimasukkannya komponen natural gas liquid (NGL). Padahal, kegiatan investasi dan eksplorasi di sektor hulu migas nasional belum mampu mendongkrak produksi riil minyak mentah secara signifikan.

“Dari 2024—025 itu, naik itu karena definisi bukan karena real production peningkatan produksi. Itu yang kita selalu apa, warning kepada pemerintah. Jangan seperti itu, kalau naik produksi, naik bener gitu, jangan karena definisi. Di dalam angka 2025 itu, ternyata dimasukkan yang namanya NGL, natural gas liquid. Termasuk itu adalah LPG,” kata Moshe ketika dihubungi, Minggu (31/5/2026).

Moshe juga menambahkan bahwa proyeksi pertumbuhan untuk tahun 2027 menjadi lebih konservatif karena minimnya kontribusi dari wilayah kerja baru yang ada saat ini.

“Makanya jadi sekarang ya mungkin peningkatannya [target lifting 2027] lebih modest, ya artinya lebih enggak terlalu besar seperti yang 2025 dari 2024,” tegas Moshe, Ketua Komite Investasi Aspermigas.

Lebih lanjut, Moshe memaparkan aspek teknis mengenai NGL yang merupakan bagian dari gas alam cair atau liquified petroleum gas (LPG) yang seharusnya dikelompokkan ke dalam kategori lifting gas bumi, bukan minyak bumi.

“Nah panjangnya rantai karbon sama hidrogen itu yang menentukan kalau itu minyak mentah, kalau itu gas, kalau itu butana, kalau itu metana, propana itu dari panjang–pendeknya dari karbon chain tersebut. Jadi itu beda-beda, beda-beda produk sebenarnya. Nah LPG itu, itu diekstrak dari natural gas. Natural gas yang di dalamnya itu ada propan sama butanya, itu diekstrak,” ujar Moshe, Ketua Komite Investasi Aspermigas.

Pemisahan ini dinilai penting agar data produksi minyak nasional mencerminkan kondisi riil di lapangan tanpa pencampuran komoditas gas.

“Makanya biasanya LPG itu ya masuk ke dalam gas, bukan masuk ke dalam minyak, gitu loh. Kan lucu gitu kan,” tegas Moshe, Ketua Komite Investasi Aspermigas.

Di sisi lain, kebijakan target KEM-PPKF APBN Tahun Anggaran 2027 ini sebelumnya telah disampaikan secara resmi oleh pemerintah di hadapan legislatif. Langkah tersebut diklaim sebagai strategi strategis dalam menjaga ketahanan energi domestik.

“Lifting minyak bumi ditargetkan 602.000 hingga 615.000 barel per hari,” ujar Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam agenda penyampaian KEM-PPKF di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Selain target minyak bumi, KEM-PPKF 2027 juga menetapkan target lifting gas bumi di kisaran 934.000 hingga 977.000 barel setara minyak bumi per hari (boepd). Pemerintah juga mematok asumsi Indonesian Crude Price (ICP) pada rentang US$70 hingga US$95 per barel.

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), realisasi lifting minyak mentah Indonesia tahun 2025 tercatat mencapai 605.800 bph. Angka tersebut melampaui target APBN 2025 yang sebesar 605.000 bph, namun angka itu sudah mencakup komponen NGL sebanyak 24.200 bph.

Jika komponen NGL tersebut dikeluarkan dari perhitungan, maka volume murni produksi siap jual minyak mentah Indonesia pada tahun 2025 hanya menyentuh angka 581.600 bph. Sebagai perbandingan, capaian lifting pada tahun 2024 adalah sebesar 579.300 bph tanpa menyertakan komponen NGL.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto memberikan klarifikasi bahwa penyertaan NGL dalam formulasi perhitungan didasarkan pada karakteristik fasa fluida hidrokarbon yang keluar dari sumur migas yang bervariasi. Menurutnya, langkah ini diambil setelah melakukan kajian regulasi dan standar internasional guna memenuhi target yang tertuang dalam APBN.

“Untuk mencapai target APBN kita lihat kaji regulasi UU kontrak standar internasional molekul itu sendiri itu NGL yang merupakan bahan baku LPG gitu masuk ke mana, ketika kita masukan ke dalam bagian dari lifting kita bisa mencapai target APBN,” kata Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas dalam rapat bersama Komisi XII DPR pada medio Februari.

Djoko memberikan contoh pemanfaatan gas ikutan di Lapangan Cepu sebesar 155 MMscfd yang digunakan kembali untuk metode enhanced oil recovery (EOR). Ia menganalogikan pembentukan kondensat dari gas ini seperti proses terbentuknya embun pada pagi hari akibat perubahan temperatur udara.

“Seperti jalan pagi hari ada embun, pagi itu temperatur dingin, perubahan pagi udara terkondensasi menjadi embun, sama dengan gas jadi kondensat asalnya dari gas, tetapi begitu sudah terkondensasi masuklah menjadi minyak. Sejak zaman kita merdeka lifting kita terdiri dari minyak mentah dan kondensat,” tegas Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author