Al-Qur’an Mengabadikan Kisah Dua Istri Nabi yang Masuk Neraka

Share

Dua istri nabi dalam sejarah Islam diabadikan di dalam Al-Qur'an sebagai sosok yang masuk neraka. Dilansir dari HaiBunda, setiap manusia tetap bertanggung jawab atas keimanan dan amal perbuatannya sendiri tanpa adanya keistimewaan meski berstatus sebagai istri seorang utusan Allah SWT.

Kisah mereka menjadi pengingat bahwa hidayah tidak ditentukan oleh hubungan keluarga ataupun kedekatan dengan orang saleh. Kedua perempuan tersebut adalah istri Nabi Nuh AS dan istri Nabi Luth AS yang memilih jalan maksiat serta kekafiran.

Istri Nabi Nuh AS masuk neraka karena menolak dakwah suaminya yang mengajak kepada tauhid. Ketika Nabi Nuh AS memperingatkan kaumnya tentang azab banjir besar dan membangun bahtera, sang istri tetap berada di pihak orang-orang kafir hingga akhirnya ikut binasa tenggelam.

Kisah tersebut disebutkan dalam Surah At-Tahrim ayat 10 yang berbunyi;

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ wَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا wَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ

Artinya:

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah (tanggung jawab) dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada (suami-suami)-nya. Mereka (kedua suami itu) tidak dapat membantunya sedikit pun dari (siksaan) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu), "Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)."

Pembangkangan dalam keluarga Nabi Nuh AS juga dilakukan oleh salah satu anaknya yang menolak naik ke bahtera saat banjir besar datang. Anak tersebut memilih berlindung di gunung karena merasa bisa menyelamatkan diri.

Allah SWT berfirman dalam Surah Hud ayat 43 yang berbunyi:

قَالَ سَاٰوِيْٓ اِلٰى جَبَلٍ يَّعْصِمُنِيْ مِنَ الْمَاۤءِ ۗقَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنْ رَّحِمَ ۚwَحَالِ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ

“Dia (anaknya) menjawab, "Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air (bah)." (Nuh) berkata, "Tidak ada penyelamat pada hari ini dari ketetapan Allah kecuali siapa yang dirahmati oleh-Nya." Gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah dia (anak itu) termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”

Kisah Istri Nabi Luth AS

Al-Qur'an juga menyebut istri Nabi Luth AS sebagai perempuan yang tidak beriman dan kerap mendukung perilaku menyimpang kaum Sodom. Dalam berbagai riwayat, ia sering membocorkan kedatangan tamu sehingga membantu kaumnya mengganggu Nabi Luth AS.

Sebelum azab diturunkan, Allah SWT memerintahkan Nabi Luth AS untuk pergi meninggalkan negeri tersebut bersama orang-orang beriman pada dini hari. Namun, sang istri tidak diperbolehkan ikut karena telah memilih berada di pihak kaum yang durhaka.

Hal itu dijelaskan dalam Surah Hud ayat 81 yang berbunyi:

قَالُوْا يٰلُوْطُ اِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَّصِلُوْٓا اِلَيْكَ فَاَسْرِ بِاَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ الَّيْلِ wَلاَ يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ اَحَدٌ اِلاَّ امْرَاَتَكَۗ اِنَّهٗ مُصِيْبُهَا مَآ اَصَابَهُمْ ۗاِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۗ اَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيْبٍ

“Mereka (para malaikat) berkata, "Wahai Lut, sesungguhnya kami adalah para utusan Tuhanmu. Mereka tidak akan dapat mengganggumu (karena mereka akan dibinasakan). Oleh karena itu, pergilah beserta keluargamu pada sebagian malam (dini hari) dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu (janganlah kamu ajak pergi karena telah berkhianat). Sesungguhnya dia akan terkena (siksaan) yang menimpa mereka dan sesungguhnya saat (kehancuran) mereka terjadi pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?”

Azab yang menimpa kaum Nabi Luth AS berupa gempa dahsyat, hujan batu, dan kehancuran negeri mereka. Istri Nabi Luth AS menjadi salah satu pihak yang dibinasakan akibat kekufuran serta pengkhianatannya terhadap dakwah sang suami.

Kedekatan dengan orang saleh tidak akan memberi manfaat jika seseorang tetap memilih jalan kemaksiatan dan menolak kebenaran. Melalui kisah ini, umat Islam diingatkan bahwa kemuliaan seseorang diukur berdasarkan iman dan ketakwaannya kepada Allah SWT, bukan dari status keluarga.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author