Umat Buddha Padati Wihara Ekayana Arama Rayakan Hari Raya Waisak

Share

Lebih dari 10 ribu umat Buddha memadati Wihara Ekayana Arama, Jakarta Barat, untuk mengikuti prosesi perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE dengan khidmat pada Minggu (31/5/2026). Dilansir dari Detikcom, para relawan dan jemaat berkumpul sejak pagi hari untuk melaksanakan rangkaian ibadah sebagai wujud syukur.

Pengurus Dewan Pembina Panitia Waisak Wihara Ekayana Arama, Febrian, menjelaskan bahwa para panitia berkumpul untuk melakukan pelimpahan jasa. Kegiatan ini merupakan bentuk suka cita atas kesempatan melayani jemaat yang hadir.

"Pelimpahan jasa dan wujud syukur karena kami semua yang tergabung dalam panitia diberikan kesempatan hari ini untuk melayani orang. Jadi kami hari ini berkumpul untuk bersuka cita dan bersyukur atas kesempatan yang kami bisa lakukan dari pagi sampai sore hari," ujar Febrian, Pengurus Dewan Pembina Panitia Waisak Wihara Ekayana Arama.

Rangkaian perayaan diawali dengan prosesi pindapata pada pagi hari yang kemudian dilanjutkan dengan puja bakti Waisak. Penyampaian pesan Waisak dipimpin langsung oleh wakil kepala sekaligus pendiri wihara tersebut.

"Dimulai pagi tadi, tadi jam 07.15 sampai jam 08.30 itu dimulai dengan prosesi pindapata. Kemudian jam 09.00 sampai jam 11.30 itu ada puja bakti Waisak, di mana pesan Waisak disampaikan oleh Bhante Dharmavimala Mahathera selaku wakil kepala Wihara Ekayana sekaligus pendiri dari Wihara Ekayana Arama," kata Febrian.

Pihak panitia mencatat antusiasme yang sangat tinggi dari masyarakat dalam perayaan tahun ini. Ribuan umat datang silih berganti untuk memperingati Hari Tri Suci Waisak di lokasi.

"Untuk jumlahnya sendiri, hari ini lebih dari 10 ribu umat Buddha yang melakukan puja bakti atau memperingati Hari Tri Suci Waisak di Wihara Ekayana Arama," sambung Febrian.

Setelah puja bakti, prosesi berlanjut pada ritual detik-detik Waisak pada sore hari. Suasana hening dan tenang diterapkan agar seluruh jemaat dapat meresapi nilai dharma melalui meditasi.

"Kalau detik-detik Waisak jatuhnya itu kurang lebih pukul 15.45. Ini nanti kondisinya adalah kita sama-sama tenang, semua tenang, meresapi nilai-nilai agama Buddha atau dharma supaya kita semua menjadi orang yang lebih sadar. Jadi momen ini menjadikan momen untuk hening. Kemudian dengan duduk tenang kalau dalam ininya adalah seperti meditasi," kata Febrian.

Perayaan ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat negara, termasuk Menteri Agama Nasaruddin Umar. Dalam kehadirannya, Menag menyampaikan apresiasi dan pesan mendalam mengenai perdamaian diri yang diajarkan dalam agama Buddha.

"Kemudian tadi ada kehadiran dari Menteri Agama, beliau menyampaikan bahwa dia juga bersukacita melihat begitu banyaknya umat Buddha karena ajaran Buddha sendiri mengajarkan kita untuk selalu eling atau sadar. Dan sadar ini membuat kita semua bisa berdamai dengan diri sendiri, sehingga ketika seseorang berdamai dengan dirinya sendiri, maka dia akan membawa kedamaian bagi masyarakat, dan bahkan bagi negaranya," kata Febrian.

Selain Menteri Agama, Kapolda Metro Jaya Komjen Asep Edi Suheri juga hadir di lokasi. Febrian mengungkapkan bahwa Kapolda memberikan pesan humanis mengenai cinta kasih yang universal.

"Bapak Kapolda tadi menyampaikan mengenai 'Kasih yang mulia tidak menakar kelayakan, ia hadir dan menyinari, sebagaimana cahaya tidak pernah memilih yang akan diteranginya.' Jadi pesan-pesan ini menjadi pesan perdamaian dan sangat humanis kalimatnya, membuat kita terus belajar untuk menjadi orang yang penuh keceriaan, penuh cinta kasih, dan siap menjadi pelita bagi semua orang," kata Febrian.

Kehadiran pejabat tinggi dilengkapi oleh Pangdam Jaya Letjen Deddy Suryadi yang juga memantau jalannya acara. Pangdam Jaya turut menitipkan pesan tertulis mengenai pentingnya harmoni dan kebersamaan.

"Pesan yang disampaikan tadi adalah kalau dari Pak Pangdam adalah 'Harmoni terwujud ketika setiap pelita dengan cahayanya yang berbeda bersedia menyinari jalan yang sama,'" kata Febrian.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author