Investor Asing Catat Jual Bersih Rp8,51 Triliun di Bursa Efek Indonesia
Investor asing membukukan aksi jual bersih senilai Rp8,51 triliun di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Dilansir dari Bloomberg Technoz, pergerakan masif tersebut terjadi bersamaan dengan momentum penyesuaian portofolio saham Indonesia di indeks MSCI yang berlaku efektif per 1 Juni 2026.
Tekanan jual berskala besar ini memicu indeks harga saham gabungan atau IHSG berbalik ke zona merah pada akhir bulan. Indeks komposit mengalami penurunan sebesar 0,05 persen hingga terdorong ke level 6.127 pada penutupan perdagangan tersebut.
“Adapun investor asing hari ini [Jumat] mencatatkan nilai jual bersih Rp8,51 triliun,” kata Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad.
Melalui catatan performa secara year-to-date, investor asing kini telah mengakumulasikan jual bersih yang mencapai Rp64,82 triliun di pasar reguler. Kondisi pasar modal domestik kian tertekan akibat kelanjutan depresiasi nilai tukar rupiah yang melemah ke posisi Rp17.874 per dolar AS.
Sektor kesehatan, properti, dan keuangan menjadi kontributor pelemahan terdalam dengan koreksi masing-masing sebesar 1,49 persen, 1,09 persen, dan 1,04 persen. Menanggapi situasi ini, praktisi pasar modal menilai penyesuaian portofolio oleh para manajer investasi merupakan bagian dari dinamika yang wajar.
“Melihat pola pergerakan saham pasca pengumuman MSCI, kemungkinan sebagian besar fund manager telah melakukan penyesuaian portofolio tanpa menunggu sampai tanggal terakhir 29 Mei 2026,” kata Hans Kwee.
Potensi penurunan lanjutan diperkirakan masih membayangi emiten yang keluar dari MSCI Global Standard Index serta MSCI Small Cap Index. Meski begitu, terdapat pandangan bahwa prospek jangka panjang dan fundamental sebagian emiten tersebut masih tetap solid.
Sebelum penyesuaian ini, MSCI telah membekukan penambahan komponen baru dari bursa saham Indonesia untuk kelompok MSCI Global Standard Index. Pada waktu yang sama, terdapat enam saham kapitalisasi besar Indonesia yang terdepak dari kategori indeks utama tersebut.
Berdasarkan publikasi resmi MSCI, saham-saham yang keluar dari MSCI Global Standard Index meliputi AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Dari daftar tersebut, AMRT menjadi satu-satunya emiten yang tidak sepenuhnya keluar karena posisinya digeser ke kategori MSCI Small Cap Indexes.
Sebaliknya, terdapat 13 saham yang dinyatakan keluar dari kategori MSCI Small Cap Indexes. Belasan saham yang tereliminasi tersebut adalah ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG.
| No | Nama Emiten (Kode) | Pengurangan Poin IHSG |
|---|---|---|
| 1 | Bank Central Asia (BBCA) | 25,9 poin |
| 2 | Bank Rakyat Indonesia (BBRI) | 18,92 poin |
| 3 | Telkom Indonesia (TLKM) | 6,29 poin |
| 4 | Astra International (ASII) | 5,01 poin |
| 5 | Bank Negara Indonesia (BBNI) | 4,55 poin |
| 6 | Bank Mandiri (BMRI) | 3,93 poin |
| 7 | Merdeka Copper Gold (MDKA) | 3,43 poin |
| 8 | Pacific Strategic Financial (APIC) | 2,83 poin |
| 9 | Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) | 2,65 poin |
| 10 | Chandra Asri Pacific (TPIA) | 2,39 poin |
Koreksi juga menimpa sejumlah saham unggulan di indeks LQ45 seperti PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang anjlok 6,11 persen dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebesar 5,22 persen. Selain itu, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) turun 4,79 persen, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) amblas 4,67 persen, serta PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) melemah 4,26 persen.
Situasi berbeda tampak di tingkat regional di mana sebagian bursa saham Asia justru menutup perdagangan di zona hijau. Indeks KOSPI Korea Selatan, NIKKEI 225 Jepang, TW Weighted Index Taiwan, TOPIX Jepang, Straits Times Singapura, dan Hang Seng Hong Kong berhasil menguat pada akhir pekan.
Evaluasi berkala untuk periode berikutnya dijadwalkan oleh MSCI pada 12 Agustus 2026. Hasil dari tinjauan tersebut nantinya mulai berlaku efektif pada 1 September 2026.