Restoran Sederhana Buka Cabang Baru di Singapura
Restoran Sederhana resmi memperluas jaringan bisnis kulinernya ke pasar internasional dengan membuka cabang baru di Singapura pada Jumat (29/5). Langkah ekspansi tersebut dilakukan dengan menempati bekas bangunan Warong Nasi Pariaman yang merupakan warung nasi Padang tertua di negara tersebut.
Dilansir dari Detik Food, ekspansi internasional ini terwujud melalui kerja sama antara PT Global Minang Ventura (GMV) bersama Nova Dana Eka dan Ferrel Fadhil. Kedua mitra kerja sama tersebut merupakan cucu dari pendiri Sederhana Group, H. Bustaman.
Restoran asal Indonesia yang berdiri sejak 1972 ini memilih lokasi di 738 North Bridge Road, kawasan Kampong Gelam. Lokasi tersebut sebelumnya digunakan oleh Warong Nasi Pariaman yang didirikan Haji Isrin sejak 1948 sebelum akhirnya ditutup pada 31 Januari 2026 akibat lonjakan harga sewa.
Direktur sekaligus co-founder PT Global Minang Ventura, Muhammad Badarudin, menjelaskan bahwa Singapura dipilih karena memiliki ekosistem kuliner yang terbuka serta kedekatan geografis. Keberadaan diaspora Indonesia yang besar di Singapura juga menjadi target pasar yang potensial bagi perusahaan.
"Lokasi yang saat ini kami tempati merupakan kawasan cagar budaya yang juga salah satu tujuan destinasi wisatawan yang datang ke Singapura. Kami melihat ini sebagai peluang untuk memperkenalkan cita rasa nasi Padang otentik, sekaligus memperkenalkan brand Sederhana kepada warga lokal Singapura dan wisatawan mancanegara," jelas Muhammad Badarudin kepada Detik Food pada Sabtu (30/5).
Pihak manajemen berkomitmen untuk menjaga keaslian menu yang dihadirkan di cabang baru tersebut. Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperkenalkan kuliner tradisional Indonesia ke ranah global.
"Kami membawa misi untuk menjadi membawa kuliner Minang/Padang ke panggung internasional khususnya cita rasa otentik khas sederhana yang sudah ada sejak 1972. Kami ingin dunia, dimulai dari Singapura, mengenal dan menghargai kekayaan kuliner Indonesia yang sesungguhnya," kata Muhammad Badarudin.