Kasus Ebola di Kongo Melonjak Menjadi 260 Pasca-Pembaruan Estimasi Wabah

Share

Jumlah kasus terkonfirmasi virus Ebola di Republik Demokratik Kongo melonjak menjadi 260 kasus setelah otoritas memperbarui estimasi ukuran wabah pada Sabtu, 30 Mei 2026. Data yang dilansir dari Bloombergtechnoz mengonfirmasi peningkatan ini terjadi seiring meluasnya infeksi varian Bundibugyo di lebih dari selusin zona kesehatan di tiga provinsi Kongo.

Menteri Kesehatan Kongo, Roger Kamba, mengumumkan angka perkembangan terbaru tersebut dalam sebuah konferensi pers di kota Bunia yang menjadi pusat penyebaran. Otoritas kesehatan setempat juga telah mendapat dukungan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) terkait uji klinis terapi antibodi eksperimental.

Kamba menjelaskan bahwa pengujian laboratorium kini ditingkatkan demi memproses 200 hingga 300 sampel per hari demi memperjelas skala sebaran virus. Walau jumlah kasus suspek sempat menurun menjadi 349 kasus pada Kamis setelah melalui investigasi, laporan kasus suspek baru masih bermunculan setiap harinya.

Kondisi ini memicu kekhawatiran dari lembaga medis internasional mengenai kecepatan penularan virus yang dinilai melampaui kemampuan tim penanggulangan di lapangan. Penyebaran infeksi bahkan dilaporkan telah mencapai wilayah tetangga dengan Uganda mencatatkan sembilan kasus dan satu kematian.

"Kenyataannya saat ini adalah tidak seorang pun mengetahui skala dan tingkat keparahan sebenarnya dari wabah ini," kata Alan Gonzalez, Wakil Direktur Operasi Doctors Without Borders (MSF).

Gonzalez menggarisbawahi kekhawatiran tim medis karena ratusan sampel pemeriksaan masih tertahan mengantre di laboratorium tanpa kepastian hasil pengujian.

"Belum pernah sebelumnya wabah Ebola mencatat begitu banyak kasus dalam waktu sesingkat ini setelah diumumkan," kata Alan Gonzalez.

Ia juga menambahkan bahwa penutupan akses perbatasan atau bandara oleh sejumlah negara justru berisiko mengisolasi wilayah terdampak yang saat ini sangat membutuhkan sokongan bantuan internasional.

"Kami tahu dari pengalaman bahwa langkah-langkah ini sangat menghambat respons terhadap wabah dan mengisolasi negara-negara yang sangat membutuhkan dukungan internasional," kata Alan Gonzalez.

Menurutnya, minimnya jumlah organisasi ahli medis di lapangan membuat tingkat dukungan penanganan yang tersedia saat ini masih jauh di bawah kebutuhan riil.

"Jumlah organisasi medis ahli yang merespons di lapangan masih sangat terbatas, dan tingkat dukungan yang diberikan, termasuk dari kami sendiri, masih jauh dari kebutuhan yang ada," kata Alan Gonzalez.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengimbau masyarakat yang mengalami gejala untuk segera mendatangi fasilitas medis terdekat demi meminimalisasi risiko fatalitas.

"Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo dapat disembuhkan dengan perawatan medis yang baik," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Ia menegaskan pentingnya penanganan dini sembari meminta negara-negara asing meninjau ulang kebijakan pembatasan perjalanan agar tidak mengganggu transparansi serta pasokan bantuan medis.

"Beberapa orang di Ituri sudah berhasil pulih," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author