Ilmuwan Universitas Duke Kembangkan Argus Robot Bulat Ber kaki Dua Puluh

Share

Sebuah inovasi robotik unik tengah dikembangkan oleh tim peneliti di Universitas Duke. Profesor teknik Boyuan Chen bersama timnya merancang robot berbentuk bulat yang dinamai Argus, alih-alih meniru wujud manusia atau hewan.

Seperti dilansir dari Detik iNET, robot ini dilengkapi dengan kamera sensor kedalaman yang terpasang pada 20 kaki teleskopik. Kaki-kaki tersebut memancar langsung dari inti pusat tubuhnya.

Argus tidak memiliki bagian depan, belakang, atas, ataupun bawah. Desain tanpa arah konseptual ini memungkinkan robot tersebut untuk melihat situasi sekitar dan bergerak ke segala penjuru secara instan.

"Alih-alih mengukur bagaimana kaki Anda tersusun di berbagai bagian tubuh yang berbeda, kami mengukur seberapa cepat Anda dapat bergerak ke segala arah. Siapa yang bilang, kalau kita memiliki robot untuk membantu kita dengan cara paling efektif, wujudnya harus terlihat seperti kita?" sebut Chen dikutip detikINET dari Associated Press.

Dalam serangkaian pengujian, Argus berhasil melewati medan sulit seperti pantai berpasir dan semak-semak hutan. Robot ini juga mampu berguling melintasi rintangan serta menjaga keseimbangan tubuhnya setelah didorong.

Argus bahkan dapat memanjat di antara dinding bata melalui kombinasi gerakan menopang dan mendorong menggunakan kaki-kakinya. Keunggulan lain dari robot ini adalah tetap dapat berfungsi meskipun beberapa motor penggeraknya mati atau kakinya patah.

"Melihat Argus bergerak tidak seperti melihat robot-robot lain yang pernah kami tangani sebelumnya," kata Jiaxun Liu, mahasiswa pascasarjana sekaligus rekan penulis studi tentang Argus.

"Pertama kali kami melihatnya menavigasi di antara pepohonan dan medan yang kasar, bahkan saat mengalami benturan keras, kami tahu bahwa robot ini adalah sesuatu yang berbeda," cetusnya.

Dalam proyek penelitian ini, para ahli menerapkan prinsip desain baru bernama isotropi dinamis. Metode ini menilai kemampuan akselerasi robot secara seragam ke segala arah menggunakan skala angka 0 hingga 1.

Mayoritas robot modern saat ini, termasuk jenis humanoid dan drone, hanya mendapatkan skor di bawah 0,6. Sementara itu, Argus berhasil meraih skor tinggi mencapai 0,91.

"Ketika sebuah robot dapat berakselerasi sama baik ke segala arah, robot tersebut tak lagi harus menghadap dunia dengan cara tertentu," ujar Chen, yang berharap prinsip serupa kelak dapat memandu pengembangan robot pencari dan penyelamat (SAR), kendaraan bawah air atau udara, maupun robot dengan kemampuan menggenggam objek.

"Daripada merancang tangan robot yang menyerupai tangan manusia salah satu gagasannya adalah menjadikan Argus itu sendiri sebagai sebuah tangan, dan ia mampu memanipulasi objek dari segala arah," jelasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author