Bermain Media Sosial Terlalu Lama Menurunkan Kemampuan Membaca Anak

Share

Kemampuan membaca dan penguasaan kosakata anak berisiko mengalami penurunan akibat penggunaan media sosial secara rutin sejak usia dini. Fenomena ini menjadi perhatian serius setelah adanya temuan mengenai keterkaitan aktivitas digital tersebut dengan perkembangan kognitif anak.

Anak-anak yang menghabiskan waktu terlalu lama di platform digital setiap harinya cenderung menghadapi hambatan saat mengenali serta melafalkan kata-kata. Hal tersebut memengaruhi proses belajar mereka.

Dikutip dari HaiBunda, perkembangan otak anak dapat beradaptasi secara langsung dengan kebiasaan digital yang dilakukan dalam durasi panjang setiap hari.

Penulis utama studi dari Fakultas Ilmu Keluarga dan Konsumen Universitas Georgia, Cory Carvalho, memberikan penjelasan mengenai analogi pertumbuhan organ tersebut.

"Otak itu seperti otot. Semakin sering anak menggunakannya, semakin banyak perubahan yang terjadi sesuai dengan cara menggunakannya," kata Carvalho, dikutip dari Futurity.

Perubahan pada karakteristik organ berpikir ini terjadi ketika anak melewatkan aktivitas stimulasi lain yang lebih penting akibat tersita oleh aktivitas di dunia maya.

"Jika anak-anak menghabiskan lebih dari delapan jam sehari menggunakan media sosial, itulah yang akan diadaptasi dan menjadi ciri khas otak mereka," ujar Carvalho.

Data penelitian ini bersumber dari studi Adolescent Brain Cognitive Development yang melakukan pemantauan terhadap lebih dari 10 ribu anak selama enam tahun, dimulai sejak mereka berusia sekitar 10 tahun.

Penurunan kapasitas literasi anak terpantau secara jelas dalam kurun waktu beberapa tahun setelah kebiasaan tersebut berjalan.

"Penggunaan media sosial memiliki biaya waktu. Jika anak menghabiskan waktu untuk melakukan satu hal, itu berarti mereka tidak menghabiskan waktu untuk melakukan hal lain," katanya.

Kondisi ini diperkuat oleh riset lain yang memperlihatkan adanya korelasi langsung antara tingginya durasi digital dengan berkurangnya minat baca.

"Studi lain menemukan bahwa semakin banyak anak menggunakan media sosial, semakin sedikit mereka membaca, sehingga perkembangan membaca tertinggal. Kami juga menemukan hal ini pada kosakata mereka," jelasnya.

Penurunan konsentrasi menjadi salah satu dampak yang paling terlihat pada anak-anak yang aktif di dunia maya. Paparan notifikasi yang konstan memicu kebiasaan melakukan beberapa tugas sekaligus, sehingga fokus mereka menjadi mudah terpecah.

Meski demikian, riset juga menunjukkan sisi lain di mana anak-anak yang akrab dengan platform digital memiliki kecepatan yang baik dalam menyerap informasi. Namun, keunggulan ini hanya terbatas pada lingkup aktivitas di media digital saja.

Asisten profesor di UGA College of Family and Consumer Sciences, Niyantri Ravindran, memaparkan hilangnya kesempatan anak dalam melatih fungsi berpikir tingkat tinggi.

"Dampak negatif pada kosakata dan membaca lebih dapat diprediksi karena media sosial berpotensi merampas kesempatan anak-anak untuk terlibat dalam beberapa keterampilan kognitif tingkat tinggi tersebut," ujar Ravindran.

Di samping risiko kognitif, platform ini diakui memiliki fungsi sosial dalam membantu anak terhubung dengan lingkungan luar, terutama bagi mereka yang mengalami hambatan dalam bersosialisasi secara langsung.

Langkah antisipasi yang disarankan oleh para peneliti bagi orang tua adalah menerapkan pembatasan durasi penggunaan perangkat elektronik, khususnya menjelang waktu istirahat malam. Orang tua juga diimbau untuk menunda kepemilikan gawai pribadi hingga anak dinilai memiliki kesiapan mental yang cukup.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author