Serangan Kilang Minyak Iran Picu Emisi Gas Beracun Setara Letusan Gunung Berapi

Share

Kebakaran hebat melanda empat kilang minyak serta fasilitas penyimpanan di Iran akibat serangan udara pada tanggal 7 Maret. Peristiwa ini memicu pelepasan gas sulfur dioksida (SO2) dalam skala masif yang dampaknya menyamai bencana alam vulkanik.

Berdasarkan data penginderaan jauh satelit meteorologi China dan Eropa, kobaran api tersebut melepaskan sekitar 29.800 metrik ton SO2 hanya dalam waktu satu hari pada tanggal 8 Maret. Polusi udara ini menjadi sorotan serius terkait dampak lingkungan dari konflik yang sedang berlangsung.

Melansir laporan dari Detik iNET, pergerakan awan gas beracun tersebut telah meluas hingga radius 2.000 kilometer pada tanggal 9 Maret dan menjangkau wilayah Asia Timur. Fenomena ini tercatat dalam sebuah penelitian di jurnal Advances in Atmospheric Sciences yang terbit pada 26 Mei 2026.

Sebagian besar gumpalan gas memang terdeteksi mulai memudar pada akhir tanggal 9 Maret. Kendati demikian, tim peneliti menegaskan bahwa efek dari pelepasan emisi berskala besar ini tidak boleh disepelekan meskipun berlangsung dalam durasi yang relatif singkat.

Zat polutan yang melayang di atmosfer kemudian bercampur dengan air hujan dan berpotensi memicu hujan hitam yang bersifat korosif. Polusi ini membawa partikel berbahaya seperti senyawa hidrokarbon yang mengancam kesehatan makhluk hidup.

Dampak langsung di permukaan juga mulai dilaporkan oleh masyarakat yang berada di sekitar lokasi kejadian. Keluhan kesehatan mulai muncul seiring dengan menyebarnya asap pekat tersebut ke wilayah pemukiman padat penduduk.

"Beberapa penduduk (di Teheran) mengalami sakit headache, rasa pahit di mulut, iritasi mata dan kulit, serta kesulitan bernapas," tulis para penulis dalam penelitian tersebut.

Konfrontasi bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran ini juga memicu lonjakan karbon dioksida (CO2) serta gas rumah kaca lain dalam jumlah masif. Sepanjang periode 28 Februari hingga 14 Maret, emisi CO2 dari perang ini melampaui total emisi tahunan negara Islandia pada tahun 2024.

Tim ilmuwan berhasil memetakan volume dan rute sebaran asap SO2 yang berasal dari Depot Minyak Fardis, Shahran, Aghdasieh, serta Kilang Minyak Teheran. Pelacakan memanfaatkan teknologi pencitraan hiperspektral ultraviolet dan inframerah.

Instrumen yang digunakan mencakup satelit FengYun 3 milik China dan satelit Prekursor Sentinel-5 kepunyaan Badan Antariksa Eropa (ESA). Data menunjukkan konsentrasi SO2 di atas langit Teheran melonjak drastis pada tanggal 8 Maret.

Paparan zat beracun ini menyelimuti area seluas hampir 300.000 kilometer persegi. Embusan angin kencang ke arah timur laut menjadi faktor utama yang mendorong kepulan asap raksasa tersebut bergerak jauh menuju Asia Timur.

Volume emisi ini sangat besar jika dikomparasikan dengan peristiwa alam. Sebagai perbandingan, letusan Gunung Eyjafjallajökull di Islandia pada tahun 2010 memuntahkan total sekitar 20.000 metrik ton SO2 selama tiga hari berturut-turut.

Kala itu, penyebaran abu vulkanik sempat melumpuhkan seluruh jalur penerbangan di benua Eropa selama hampir satu bulan. Peristiwa tersebut juga menyisakan masalah pernapasan jangka panjang bagi warga yang terpapar udara korosif.

Senyawa SO2 dikenal sebagai faktor utama penggerak fenomena hujan asam di alam. Hujan asam membawa kerusakan struktural bagi lingkungan, seperti pengikisan nutrisi penting pada tanah serta pencemaran ekosistem perairan terbuka.

Paparan polusi udara kronis termasuk belerang dioksida ini juga kerap dihubungkan dengan gangguan psikologis seperti depresi dan kecemasan. Evaluasi lebih mendalam masih diperlukan guna mengukur dampak riil terhadap kesehatan masyarakat akibat hancurnya kilang minyak Iran.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author