Arsenal Gagal Raih Trofi Liga Champions Usai Kalah dari Paris Saint-Germain
Klub asal Inggris, Arsenal, kembali gagal meraih trofi setelah kalah adu penalti 3-4 dari Paris Saint-Germain (PSG) pada laga final Liga Champions di Puskas Arena, Budapest, Hongaria, Sabtu (30/5/2026) malam WIB.
Pertandingan puncak tersebut harus berlanjut hingga babak tos-tosan setelah kedua tim bermain imbang 1-1 sepanjang 120 menit. Skuad asuhan Mikel Arteta sebenarnya unggul lebih dulu melalui gol cepat Kai Havertz pada menit kelima atau keenam, namun juara bertahan asal Prancis tersebut berhasil menyamakan kedudukan lewat penalti Ousmane Dembele pada menit ke-61 atau ke-64 setelah Khvicha Kvaratskhelia dilanggar oleh Cristhian Mosquera di dalam kotak terlarang.
Kegagalan dua eksekutor The Gunners, Eberechi Eze yang sepakannya melenceng dan Gabriel Magalhaes yang tendangannya melambung tinggi, akhirnya memastikan trofi jatuh ke pelukan wakil Prancis. Hasil ini memperburuk catatan Arsenal yang selalu kalah dalam lima kali kesempatan final kompetisi Eropa sepanjang sejarah klub, termasuk final Piala Winners 1995 dari Real Zaragoza, Piala UEFA 2000 dari Galatasaray, Liga Champions 2006 dari Barcelona, dan Liga Europa 2018/2019 dari Chelsea.
Manajer Arsenal, Mikel Arteta, memberikan apresiasi atas pencapaian timnya meski tetap merasakan kekecewaan mendalam atas hasil buruk di partai puncak tersebut.
"Kami sudah 22 tahun tidak lolos ke final Liga Champions, jadi bayangkan saja ini adalah kali kedua sepanjang sejarah kami bisa ke sana, dan kami harus mengapresiasi musim ini. Tapi untuk saat ini, tidak ada satu pun yang bisa menghapus rasa sakit ini," ujar Mikel Arteta seperti dikutip BBC Sport.
Di tengah kesedihan pascapertandingan, kapten PSG, Marquinhos, menunjukkan aksi simpatik dengan menghampiri dan menghibur Gabriel Magalhaes yang tampak sangat terpukul. Sikap bek veteran asal Brasil itu mendapat pujian dari kapten Arsenal, Martin Odegaard, yang menilai tindakan tersebut lahir dari pengalaman panjang di kompetisi elite Eropa.
"Dia seorang pria sejati. Dia mungkin salah satu pemain paling berpengalaman yang masih aktif saat ini," ucap Martin Odegaard dikutip dari Goal English.
Odegaard menambahkan bahwa gestur empati dari rekan senegara Gabriel di timnas Brasil itu sangat luar biasa di momen yang sarat emosi.
"Dia sudah pernah mengalami kedua sisi final seperti ini, dan dia tahu apa yang sedang kami alami saat ini," tegas Martin Odegaard.
Sementara itu, gelandang Declan Rice langsung memberikan pembelaan untuk Eze dan Gabriel Magalhaes setelah keduanya gagal mengeksekusi penalti penentu.
"Sangat kecewa. Gagal mengeksekusi penalti di final Liga Champions bukanlah hal yang menyenangkan," ujar Declan Rice kepada saluran televisi TNT Sports.
Rice juga menekankan betapa krusialnya peran kedua rekan setimnya tersebut atas seluruh pencapaian Arsenal sepanjang kompetisi musim ini.
"Tapi kami menyayangi mereka. Lihat, hal itu terjadi di sepak bola. Mereka bukan pemain terakhir yang gagal mengeksekusi penalti di final."
Gelandang tim nasional Inggris tersebut menegaskan bahwa kegagalan penalti bisa menimpa siapa saja dalam dunia sepak bola profesional.
"Semua orang pernah gagal mengeksekusi penalti. Tanpa mereka berdua musim ini, kami tidak akan memenangkan Liga Premier. Ini kejam, tetapi kami mengambil sisi positifnya," pungkas Declan Rice.