Arsenal Gagal Juara Liga Champions Setelah Kalah Adu Penalti dari PSG
Mimpi Arsenal untuk memenangi gelar Liga Champions pertama kalinya kandas setelah kalah adu penalti 3-4 dari Paris Saint-Germain pada laga final di Puskas Arena, Budapest, Sabtu (30/5/2026) malam WIB.
Pertandingan puncak kompetisi tertinggi Eropa tersebut harus berlanjut hingga babak tos-tosan setelah kedua tim bermain imbang 1-1 sepanjang 120 menit.
Skuad asuhan Mikel Arteta sebenarnya unggul lebih dulu melalui gol cepat Kai Havertz pada menit keenam.
Namun, juara bertahan asal Prancis tersebut berhasil menyamakan kedudukan lewat penalti Ousmane Dembele setelah Khvicha Kvaratskhelia dilanggar oleh Cristhian Mosquera di dalam kotak terlarang.
Kegagalan dua eksekutor The Gunners, Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes, dalam babak adu penalti akhirnya memastikan Paris Saint-Germain mempertahankan gelar juara mereka untuk kedua kali beruntun.
Hasil ini sekaligus menodai catatan impresif Arsenal yang sebelumnya tidak terkalahkan sejak fase grup, termasuk saat menghadapi Athletic Bilbao, Olympiacos, Atletico Madrid, Slavia Prague, Bayern Munchen, Club Brugge, Inter Milan, Kairat, Bayer Leverkusen, dan Sporting CP.
Pelatih Arsenal mengekspresikan beratnya menerima kekalahan dalam perebutan trofi bergengsi ini setelah anak asuhnya tampil konsisten sepanjang turnamen.
"Situasi ini sangat sulit ketika Anda begitu konsisten di kompetisi hingga ke final, dan pada akhirnya Anda kalah dalam perebutan trofi melalui adu penalti. Ini sulit," kata Mikel Arteta, Manajer Arsenal kepada situs resmi Liga Champions.
Kendati demikian, sang manajer tetap memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen dan perjuangan total yang ditunjukkan oleh seluruh elemen pasukannya di atas lapangan.
"Saya sangat proud pada mereka. Menjadi sebuah kehormatan bagi saya melatih kelompok pemain ini, tim ini, cara mereka membawa lambang ini dan begitu besarnya mereka mencurahkan diri untuk hal tersebut," ujar Mikel Arteta, Manajer Arsenal.
Gelandang Declan Rice juga menyampaikan rasa kecewanya atas hasil pahit di partai final ini, namun ia memilih untuk fokus pada perkembangan masa depan klub.
"Kami akan terus melangkah dan mencoba meraih sesuatu yang besar. Kami semua kecewa, ini final Liga Champions dan pertaruhannya sangat besar," ujar Declan Rice, Pemain Arsenal di situs UEFA.
Pemain tim nasional Inggris tersebut menambahkan bahwa sang manajer telah memberikan penguatan moral kepada tim dan menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan fondasi awal yang baik.
"Ini memang kejam. Tapi lihat, dia (Arteta) baru saja bilang soal betapa dia menyayangi kami sebagai sebuah grup. Kami telah mengerahkan semuanya. Saya rasa kami sudah berjalan sangat jauh dan ini baru awalnya," kata Declan Rice, Pemain Arsenal.
Rice optimistis kegagalan ini tidak akan menghancurkan mentalitas tim, mengingat Arsenal sebelumnya juga berhasil melewati rintangan besar untuk menjuarai Premier League musim ini.
"Kami berhasil melintasi pembatas di Premier League dan itu adalah mimpi yang jadi nyata. Ini seharusnya jadi satu langkah lebih jauh dari sana, memang tidak terjadi, tapi kami terus membangun diri. Kami terus berusaha dan tetap berpikir positif. Kegagalan ini tidak akan menggambarkan diri kami," ujar Declan Rice, Pemain Arsenal.
Dalam wawancara terpisah mengenai rekan setimnya yang gagal mengeksekusi penalti, Rice menegaskan pembelaan dan dukungannya terhadap kontribusi besar kedua pemain tersebut bagi klub sepanjang musim.
"Sangat kecewa. Gagal mengeksekusi penalti di final Liga Champions bukanlah hal yang menyenangkan. Tapi kami tetap mendukung mereka. Lihatlah, hal seperti itu biasa terjadi dalam sepak bola. Mereka bukanlah pemain terakhir yang gagal mengeksekusi penalti di final. Semua orang pernah gagal mengeksekusi penalti. Tanpa mereka berdua musim ini, kami tidak akan memenangkan Liga Premier. Ini memang kejam, tapi kami mengambil sisi positifnya," kata Declan Rice, Pemain Arsenal kepada TNT Sports.
Sementara itu, Kapten Arsenal Martin Odegaard memberikan apresiasi khusus terhadap aksi sportivitas kapten lawan yang langsung menenangkan Gabriel Magalhaes sesaat setelah adu penalti selesai.
"Dia seorang gentleman. Dia mungkin salah satu pemain paling berpengalaman yang masih aktif saat ini," kata Martin Odegaard, Kapten Arsenal.
Odegaard menilai sikap empati yang ditunjukkan oleh bek veteran asal Brasil tersebut lahir dari pengalaman panjang sang pemain dalam menghadapi dinamika kompetisi elite Eropa.
"Dia sudah mengalami kedua sisi dari final seperti ini, dan dia tahu apa yang sedang kami alami saat ini," ujar Martin Odegaard, Kapten Arsenal.